Senin, 19 November 2012

sunday afternoon


Senin, 17 September 2012


ketika  darahku berdesir-desir,muka terasa mengencang dan memanas
disaat aku mendengar lantunan bait-bait nada yang menyerukan setiap jengkal namamu
aku sadar aku mencintaimu.


http://www.youtube.com/watch?v=lxdUptwtyRQ

Kamis, 13 September 2012


13 september diujung dini hari
usiaku berkurang
namun aku masih banyak kekurangan
meskipun hanya doa
kuinginmendoakan orang-orang yang aku cinta (anak dan istri)
senoga Allah memberi berkah disetiap waktu.
(sebuah catatan dari lelaki keriting pertama yang aku lihat di 18 Juni 1992)

Senin, 27 Agustus 2012


happy ied mubbarok 1433 H
You can close your eyes to the things that you don't want to see, but You can't close your heart to the things you don't want to feel.
(Jhonny Depp)

Minggu, 26 Agustus 2012


ketika ini memang berawal dari isu, sungguh aku tak ingin ini semua berakhir dengan tisu

merpati saja tak penah ingkar janji


Jarum panjang itu hampir menyentuh angka 1 dan 2
Wanita separuh abad itu masih menunggu
Dengan pintu sedikit terbuka
Aku melihatnya cemas
Kali ini aku ingin seperti persepsi orang tentang merpati
Yang katanya tak pernah ingkar janji

Jumat, 17 Agustus 2012

kita di angka 67

16 Agustus 2012.
Selepas acara kenegaraan dikampungku, aku masih asik menikmati pergerakan lini masa di dua jejaring sosial yang cukup akrab bagi penduduk negara ini.
Menjadi penyimak lini masa bagiku cukup mengasyikkan. Mengamati dinamika kehidupan manusia-manusia yang katanya modern. Yang kadang membuat ku tertawa, merasa prihatin,  sampai mengernyitkan dahi. Selalu ada saja, polah tingkah manusia-manusia yang terurai lewat susunan-susunan alfabetis.
Ya, ketika aku menulis kalimat ini aku telah melampaui menit ke empat di tanggal 17 Agustus 2012. Terus apa hubungannya dengan lini masa yang sedari tadi aku bicarakan? Ehhmmm... rangkaian kata menyambut hari ulangtahun negeri tercinta bertebaran dimana-mana. Mulai dari ucapan selamat, hingga cacian, keluhan tentang Indonesia.  Ahhh, hampir rata-rata seperti itu. Namun ada beberapa yang menggelitik ku untuk berceloteh.
Ya, mereka yang memulai dengan ngentul lalu mereka seolah menjatuhkannya.  Tak sedikit pula yang protes, dan bertanya-tanya yang mungkin kalo dibaca dengan gaya sok Innocent to the max.
Dirgahayu Indonesia ku, Apakah kita benar-benar sudah merdeka, dengan bla bla bla segala keburukan negeri ini, dengan menitikberatkan satu permasalahan kepada satu pihak.
Oh men, what kind of shit that you give to your reader. Errr..... Ini tuh negeri kita. Negeri kamu, negeriku juga. Indonesia kita.
Kalo kamu masih juga cerita Indonesia banyak penduduk miskin, banyak korup dimana-mana, kebodohan dimana-mana. Basi tau. Semua orang juga tau.
Ibarat Indonesia itu seperti anak kita yang tubuhnya digerogoti koreng dimana-mana, yang kamu lakukan kebanyakan dan mungkin juga aku lakukan cuma ngomong ke orang-orang,
“Ini hlo, anak gue. Sakit. Kudisan,koreng dimana-mana, ga tau kenapa ga sembuh-sembuh. Aduh kenapa sih Tuhan ngasih penyakit kek gini. Kenapa mesti anak gue sih.”
Dikata tuh penyakit bisa sembuh cuma dengan kita curhat ke orang-orang tentang penyakit anak kita. Enggak men, sama sekali enggak.
Gimana mau sembuh, kalo kita cuma ngeluh, banyakan ngomong, kalo plesetan kata dari iklan rokok itu talk more do less. Seharusnya kita itu mikir, gimana cara biar cepet sembuh. Cepet bergerak.
Indonesia itu udah cukup capek dengan protesan-protesan kita. Indonesia butuh solusi. Kalo kita cuma bisa ngeluh, protes tanpa ngasi solusi itu basi.
Coba kita pikir baik-baik sebelum kita ngeluh, mencaci, menyalahkan,
 apa sih yang sudah kita berikan buat negeri ini? What we have done for this country?
Jadi inget sama salah satu ayat yang ada di agama aku,
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang ada pada diri mereka. QS 13 : 11.
So, marilah kita mulai dari diri kita, sebagai orang Indonesia. Karena Indonesia itu milik kita. Ya, kamu dan aku.
Finally, ini entri bukan untuk menyinggung siapa-siapa. Meskipun aku juga tau kata-kataku ini mungkin akan kalian cap norak, kampungan, banyak omong, atau apalah. Aku sih ndak begitu peduli. Aku cuma pengen kita bisa menjadi pribadi yang tidak banyak menuntut, menyalahkan. Apalagi menuntut dan menyalahkan tanpa solusi dan tindakan tegas.
Dan semoga di usia 67 tahun ini kita bisa lebih dewasa memandang suatu fenomena. Jangan sampai mengedapankan ego masing-masing,ndak bakal ketemu, yakin deh. Karena masing-masing dari kita memang ditakdirkan berbeda.
Semoga entri ini bisa menjadi pembelajaran buat aku, dan semoga kamu juga.
Selamat ulang tahun, Indonesiaku, Indonesia mu. :)

Kamis, 16 Agustus 2012

Senandung Rindu (Tohpati feat Sutha)


 
It such as a precious wharf, when I have nowhere to run


Fort Minor - ''Where'd You Go'' Official Music Video HD








Where'd you go? I miss you so. Seems like it's been forever that you've been gone,
Please come back home

Dear you,
I miss the way you great me with, “nunuuuuuuuuuuuu....”
Sincerely, me

Minggu, 12 Agustus 2012


sharing , laughing , caring , tutoring , loving
Coklat mungkin kita memang  ditakdirkan bersama
Tak peduli seberapa banyak sapuan warna yang mereka tawarkan
Sepasang mata ini selalu mengekor setiap titik warnamu
Ketika mereka menawarkannya secara cuma-cuma
Hatiku tak goyah,bukanpula terombang-ambing
Bahkan begitu keras aku menafikkanmu
Kau seolah tak pernah lelah membuntutiku, menarikku
Lebih dalam
Dan mungkin terlalu dalam

Sabtu, 11 Agustus 2012

Setengah Salak


Setengah Salak
Mata Banyu tak henti-hentinya menatap kearah luar jendela perpustakaan. Hujan belum reda, hatinya berkecamuk. Duduknya mulai tak tenang, sebentar-sebentar ia menyeka air mata yang nyaris keluar dari pelupuk mata minusnya. Ia lanjutkan bacaan yang sedari tadi digenggamnya, namun hatinya tetap gelisah, tak tenang.
***
“Banyu, ada tamu buat kamu. Bergegaslah ke ruang kesiswaan.” Seru ustadz Malik seraya menepuk pundak Banyu.
“Baik Tadz.” Kali ini matanya lebih bersinar dan berkilat-kilat terlihat jelas dari balik kacamata minusnya. Dengan semangat ia melangkahkan kakinya ke ruang kesiswaan.
***
Teras ruang kesiswaan nampak lengang, maklum sehabis sholat dzuhur.
Dilihatnya seorang wanita paruh baya dengan kerudung coklat tanah memandangnya penuh keteduhan. Dihampirinya wanita itu, dan dipeluknya erat-erat.
“Buk, Banyu kangen...” kata-katanya tercekat dan kali ini ia tak lagi bisa menahan air mata yang sedari tadi di tahannya rapat-rapat.
Wanita itu mengelus kepala anak laki-lakinya, dengan lembut.
Satu setengah jam berlalu, rasanya tak pernah cukup untuk Banyu melepas rindu dengan Ibunya.
“Nak, Ibu pulang dulu ya. Jangan nakal. Belajar sungguh-sungguh. Oh iya, jangan lupa dibagi oleh-oleh ini sama kawan-kawan kau.”
Banyu hanya mengangguk. Diciumnya tangan wanita itu, dan ia terus memandanginya sampai siluetnya benar-benar hilang.
Ditentengnya keresek hitam itu menuju asrama. Sepi, ya anak-anak pondok lainnya mungkin sedang berada di perpustakaan atau ruang kegiatan santri. Dibuka nya bungkusan itu dengan berdebar, dikeluarkannya buah buah salak itu dari kantong. Ya dihitung. Sudah menjadi tradisi di asrama ini. Untuk saling berbagi. Beberapa hari yang lalu Anto mendapat kunjungan dari orang tuanya, dan ia dibawakan manisan mangga yang bisa dikatakan cukup berlimpah untuk kami ber enam puluh dikamar ini.
Dihitung nya berkali-kali butiran-butiran salak yan dibawakan Ibunya tadi. Namun tak ada yag berubah, jumlah nya tetap 38. Padahal jumlah penghuni kamar ini ada 60santri dan setiap santri harus mendapat bagian. Bagaimana mungkin 38 Salak untuk 60 santri. Hatinya galau. Mungkin kondisi perekonomian dirumah sedang tidak bagus, makanya Ibu hanya membawakan sekedarnya.
Tekadnya sudah bulat di baginya tiap butiran salak itu menjadi dua bagian.  Disisakannya 8 butir untuk disimpannya. Dengan segera ia masukkan salak-salak tadi kedalam kantongnya, takut ketahuan santri-santri yang lain.
***
Banyu masih asik dengan kain pelnya ketika teman-temannya berhamburan keluar kamar untuk shalat ashar berjamaah di masjid. Memang ada pengecualian untuk santri yang mendapat jadwal piket mengepel kamar, boleh tidak shalat ashar berjamaah dimasjid.
Setelah dirasa keadaan sudah aman, di kemasi lah peralatan pelnya. Segera ia berlari menuju lemari tempat ia menyimpan salak-salaknya tadi. Setiap satu lemari santri ditaruhnya setengah buah salak, begitulah sampai setiap atas lemari santri terdapat buah salak, yang tentunya hanya setengah. Oh iya, tak lupa ditaruh pula salak yang tinggal separuh itu diatas lemarinya, yang pastinya agar tidak ketahuan oleh santri yang lain.
***
“Wah , lihat teman. Aku mendapat salak. Siapa ini yang hais dapat kiriman?? Tapi tunggu... siapa yang makan salak ku. Kenapa tinggal setengah?” Seru Fadli kepada teman-temannya.
“Fadli coba kau tengok punya aku, rupanya punyaku juga ada yang makan ini. Dan Cuma disisakan setengah. Ih menyebalkan sekali.” Timpal Ismail.
Santri-santri lain pun menghampiri lemari masing-masing.
“Hai, rupanya bukan hanya milik kalian berdua  saja. Punya aku juga.”
Santri-santri lain juga saling bersahut-sahutan membicarakan salak yang tinggal setengah.
“Sudahlah ya akhi, kita nikmati saja rezeki sore ini. Tak usah kau ributkan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu diributkan. By the way, buat siapapun yang sudah berbagi kiriman ini kepada kami, saya ucapkan terimakasih banyak ya.” Seloroh Fuad si perut tambun dengan mulut mengunyah salak.
Suara dengungan santri-santri lain pun masih terdengar. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas ini kejadian pertama sejak mereka menjadi santri di pondok ini.
“Banyu, punya kau juga setengah ya.” Andi teman yang memiliki lemari sebelah Banyu bertanya.
Banyu hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kenapa Cuma setengah ya Banyu. Pelit kali. Dih, menyedihkan sekali anak yang memberi ini.” Kini Andi sedikit terkekeh.
Banyu hanya tersenyum kecut.
Ya Tuhan. Banyu hanya bisa membatin.

Minggu, 29 Juli 2012

“Hei,Kamu......”


“Hei,kamu. Siapa yang suruh lepas topi anyaman daun nangka nya??”
Itulah kalimat sekaligus sentakan pertama yang ia tujukan langsung untukku pertama kali. Dongkol dan serasa ingin mencubit lengannya kala itu. Tapi aku hanyalah seorang peserta Orientasi Mahasiswa Baru yang tak punya kuasa apapun. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah berkeyakinan aku akan meng-skak matt nya nanti.
Perasaan ingin menjatuhkannya pun semakin menggebu-gebu. Kami terlibat persilatan argumentasi. Perdebatan yang sangat sengit. Berhasil menyudutkannya di dalam forum dan membuatnya “melarikan” isu dari perdebatan kala itu cukup membuatku bisa tidur agak nyenyak malam itu.
-----------------------**-------------------------
“Hei,kamu disini ya?”
Kalimat lembutnya membuat aku tersentak. Dan aku hanya bisa terdiam menyambut uluran tangannya. Kala itu dia nampak berbeda dengan saat pertama kali kami bertemu. Halus , lembut dan sangat ramah.
Mulai saat itu kami sering terlibat diskusi hangat namun cukup menguras otak. Dari hal paling sepele dalam kehidupan sampai hal yang paling kompleks. Dia sering berhasil membolak-balikkan pemikiran ku. Dan dia selalu berhasil membuat aku berdebar, “Pertanyaan macam apa kali ini yang akan ia tujukan.” Dia berhasil membukakan sisi lain dunia yang belum pernah aku sentuh sebelumnya. Dan aku belajar banyak darinya.
Tak hanya terkagum dengan cara dia berpikir, aku juga sangat mengaguminya memperlakukan seseorang. Dia hampir selalu bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Aku sangat terkesan bagaimana ia memperlakukan aku. Dan  tanpa terasa aku mulai resah bila tak bersua dengannya. Ya,resah yang dialami hampir setiap wanita ketika mereka tak bertemu dengan sosok yang membuat mereka tersenyum bak orang gila.
-----------------------**-------------------------
 “Hei, kamu,suka ngopi disini juga ya?” ia mematung dengan senyum dan secangkir kopi ditangannya.
Ia membuyarkan lamunanku. Tanpa di komando, ia langsung duduk di bangku sebelahku. Kami bercerita kesana kemari. Dengan bahasan yang ringan dan santai. Lama tak bertemu nampaknya membuat kami rindu untuk mengkaji sesuatu. Namun tiba-tiba aku tercekat ketika tanpa sengaja aku melihat sebuah cincin dengan warna silver melingkar di jari manisnya. Mendadak hati menjadi galau. Perlahan-lahan aku mulai mengatur ritme perasaanku yang tak menentu. Dan akhirnya aku berhasil berlaku seolah tak pernah ada apa-apa, aku masih mencoba menikmati obrolan kami dengan secangkir kopi di bawah langit senja kala itu. Walau aku tau pikiranku telah melayang-layang ke negeri awan.
Tahun memang berganti,ia sekalipun tak pernah terganti, meski mungkin ia telah termiliki.

Sukoharjo,29 Januari 2012

Kamis, 19 Juli 2012

sebatas kau dan luka

Sayatan ini terpatri bagai luka
Ia selalu teriring dalam setiap derap langkah
Kemanapun, dimanapun
Hingga akhirnya ia bak teman sejawat
Ia mengering, dan akhirnya mengelupas
Jatuh
Hilang, terbang bersama angin

Minggu, 11 Maret 2012

REGRET AND BE THANKFUL

REGRET AND BE THANKFUL

I can’t repair the bad thing that I’ve done,I regret my foolishness in my past,but I’m happier to be thankful of that.
Well, pada dasarnya memang hidup itu seperti garis lurus,tak pernah kembali ke titik awal garis itu dibuat. Karena hidup bukan lah bulatan bola yang tiada berujung dan tiada berpangkal.
Ya, memang begitulah hidup. Kita tidak bisa memperbaiki hal yang sudah berlalu. Sebagai manusia biasa, saya sering melakukan kesalahan/kebodohan yang berujung penyesalan. Dan saya tidak mau terkurung dalam kata-kata, “Andaisaja dulu aku......”, “Kalau saja aku tahu......” terlalu lama. Karena toh saya juga nggak akan bisa memperbaiki hal yang sudah lewat. Mengapa harus terkurung dalam dimensi pengandaian yang tiada berbuah.
Tapi disini  saya bisa belajar, saya tidak terlalu takut melakukan kesalahan. Karena dengan menjadi risk taker kita akan tahu lebih banyak daripada seorang yang hanya mengambil “jalan aman”  yang terkadang hanya mengetahui dunia yang itu-itu saja.
Suatu hal yang tertinggal sepanjang perjalanan menjadi seorang risk taker adalah saya lebih mengetahui banyak hal dari yang teman seusia saya dapatkan kala itu. Karena kesalahan adalah peringatan yang diawalkan. Saya tidak bisa membayangkan kalau saja kebodohan yang saya lakukan saat ini saya lakukan dimasa yang akan datang. Terlalu banyak yang dikorbankan jika hal bodoh ini saya lakaukan lakukan di masa mendatang.
Saya  menyesal pernah melakukan tindakan yang sebegitu bodohnya waktu saya berada di usia yang seharusnya masih belum pantas melakukan hal itu. Tapi saya bersyukur atasnya,karena di usia sekarang saya bisa lebih aware dengan situasi yang mungkin akan melenakan bagi orang yang belum pernah mengalami sebelumnya.
Well, being regretful is required, but when you put yourself as the most culpable person for a long time,keep moving and be thankful you’ve been awakened earlier.



be thankful to your life