Senin, 27 Agustus 2012


happy ied mubbarok 1433 H
You can close your eyes to the things that you don't want to see, but You can't close your heart to the things you don't want to feel.
(Jhonny Depp)

Minggu, 26 Agustus 2012


ketika ini memang berawal dari isu, sungguh aku tak ingin ini semua berakhir dengan tisu

merpati saja tak penah ingkar janji


Jarum panjang itu hampir menyentuh angka 1 dan 2
Wanita separuh abad itu masih menunggu
Dengan pintu sedikit terbuka
Aku melihatnya cemas
Kali ini aku ingin seperti persepsi orang tentang merpati
Yang katanya tak pernah ingkar janji

Jumat, 17 Agustus 2012

kita di angka 67

16 Agustus 2012.
Selepas acara kenegaraan dikampungku, aku masih asik menikmati pergerakan lini masa di dua jejaring sosial yang cukup akrab bagi penduduk negara ini.
Menjadi penyimak lini masa bagiku cukup mengasyikkan. Mengamati dinamika kehidupan manusia-manusia yang katanya modern. Yang kadang membuat ku tertawa, merasa prihatin,  sampai mengernyitkan dahi. Selalu ada saja, polah tingkah manusia-manusia yang terurai lewat susunan-susunan alfabetis.
Ya, ketika aku menulis kalimat ini aku telah melampaui menit ke empat di tanggal 17 Agustus 2012. Terus apa hubungannya dengan lini masa yang sedari tadi aku bicarakan? Ehhmmm... rangkaian kata menyambut hari ulangtahun negeri tercinta bertebaran dimana-mana. Mulai dari ucapan selamat, hingga cacian, keluhan tentang Indonesia.  Ahhh, hampir rata-rata seperti itu. Namun ada beberapa yang menggelitik ku untuk berceloteh.
Ya, mereka yang memulai dengan ngentul lalu mereka seolah menjatuhkannya.  Tak sedikit pula yang protes, dan bertanya-tanya yang mungkin kalo dibaca dengan gaya sok Innocent to the max.
Dirgahayu Indonesia ku, Apakah kita benar-benar sudah merdeka, dengan bla bla bla segala keburukan negeri ini, dengan menitikberatkan satu permasalahan kepada satu pihak.
Oh men, what kind of shit that you give to your reader. Errr..... Ini tuh negeri kita. Negeri kamu, negeriku juga. Indonesia kita.
Kalo kamu masih juga cerita Indonesia banyak penduduk miskin, banyak korup dimana-mana, kebodohan dimana-mana. Basi tau. Semua orang juga tau.
Ibarat Indonesia itu seperti anak kita yang tubuhnya digerogoti koreng dimana-mana, yang kamu lakukan kebanyakan dan mungkin juga aku lakukan cuma ngomong ke orang-orang,
“Ini hlo, anak gue. Sakit. Kudisan,koreng dimana-mana, ga tau kenapa ga sembuh-sembuh. Aduh kenapa sih Tuhan ngasih penyakit kek gini. Kenapa mesti anak gue sih.”
Dikata tuh penyakit bisa sembuh cuma dengan kita curhat ke orang-orang tentang penyakit anak kita. Enggak men, sama sekali enggak.
Gimana mau sembuh, kalo kita cuma ngeluh, banyakan ngomong, kalo plesetan kata dari iklan rokok itu talk more do less. Seharusnya kita itu mikir, gimana cara biar cepet sembuh. Cepet bergerak.
Indonesia itu udah cukup capek dengan protesan-protesan kita. Indonesia butuh solusi. Kalo kita cuma bisa ngeluh, protes tanpa ngasi solusi itu basi.
Coba kita pikir baik-baik sebelum kita ngeluh, mencaci, menyalahkan,
 apa sih yang sudah kita berikan buat negeri ini? What we have done for this country?
Jadi inget sama salah satu ayat yang ada di agama aku,
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang ada pada diri mereka. QS 13 : 11.
So, marilah kita mulai dari diri kita, sebagai orang Indonesia. Karena Indonesia itu milik kita. Ya, kamu dan aku.
Finally, ini entri bukan untuk menyinggung siapa-siapa. Meskipun aku juga tau kata-kataku ini mungkin akan kalian cap norak, kampungan, banyak omong, atau apalah. Aku sih ndak begitu peduli. Aku cuma pengen kita bisa menjadi pribadi yang tidak banyak menuntut, menyalahkan. Apalagi menuntut dan menyalahkan tanpa solusi dan tindakan tegas.
Dan semoga di usia 67 tahun ini kita bisa lebih dewasa memandang suatu fenomena. Jangan sampai mengedapankan ego masing-masing,ndak bakal ketemu, yakin deh. Karena masing-masing dari kita memang ditakdirkan berbeda.
Semoga entri ini bisa menjadi pembelajaran buat aku, dan semoga kamu juga.
Selamat ulang tahun, Indonesiaku, Indonesia mu. :)

Kamis, 16 Agustus 2012

Senandung Rindu (Tohpati feat Sutha)


 
It such as a precious wharf, when I have nowhere to run


Fort Minor - ''Where'd You Go'' Official Music Video HD








Where'd you go? I miss you so. Seems like it's been forever that you've been gone,
Please come back home

Dear you,
I miss the way you great me with, “nunuuuuuuuuuuuu....”
Sincerely, me

Minggu, 12 Agustus 2012


sharing , laughing , caring , tutoring , loving
Coklat mungkin kita memang  ditakdirkan bersama
Tak peduli seberapa banyak sapuan warna yang mereka tawarkan
Sepasang mata ini selalu mengekor setiap titik warnamu
Ketika mereka menawarkannya secara cuma-cuma
Hatiku tak goyah,bukanpula terombang-ambing
Bahkan begitu keras aku menafikkanmu
Kau seolah tak pernah lelah membuntutiku, menarikku
Lebih dalam
Dan mungkin terlalu dalam

Sabtu, 11 Agustus 2012

Setengah Salak


Setengah Salak
Mata Banyu tak henti-hentinya menatap kearah luar jendela perpustakaan. Hujan belum reda, hatinya berkecamuk. Duduknya mulai tak tenang, sebentar-sebentar ia menyeka air mata yang nyaris keluar dari pelupuk mata minusnya. Ia lanjutkan bacaan yang sedari tadi digenggamnya, namun hatinya tetap gelisah, tak tenang.
***
“Banyu, ada tamu buat kamu. Bergegaslah ke ruang kesiswaan.” Seru ustadz Malik seraya menepuk pundak Banyu.
“Baik Tadz.” Kali ini matanya lebih bersinar dan berkilat-kilat terlihat jelas dari balik kacamata minusnya. Dengan semangat ia melangkahkan kakinya ke ruang kesiswaan.
***
Teras ruang kesiswaan nampak lengang, maklum sehabis sholat dzuhur.
Dilihatnya seorang wanita paruh baya dengan kerudung coklat tanah memandangnya penuh keteduhan. Dihampirinya wanita itu, dan dipeluknya erat-erat.
“Buk, Banyu kangen...” kata-katanya tercekat dan kali ini ia tak lagi bisa menahan air mata yang sedari tadi di tahannya rapat-rapat.
Wanita itu mengelus kepala anak laki-lakinya, dengan lembut.
Satu setengah jam berlalu, rasanya tak pernah cukup untuk Banyu melepas rindu dengan Ibunya.
“Nak, Ibu pulang dulu ya. Jangan nakal. Belajar sungguh-sungguh. Oh iya, jangan lupa dibagi oleh-oleh ini sama kawan-kawan kau.”
Banyu hanya mengangguk. Diciumnya tangan wanita itu, dan ia terus memandanginya sampai siluetnya benar-benar hilang.
Ditentengnya keresek hitam itu menuju asrama. Sepi, ya anak-anak pondok lainnya mungkin sedang berada di perpustakaan atau ruang kegiatan santri. Dibuka nya bungkusan itu dengan berdebar, dikeluarkannya buah buah salak itu dari kantong. Ya dihitung. Sudah menjadi tradisi di asrama ini. Untuk saling berbagi. Beberapa hari yang lalu Anto mendapat kunjungan dari orang tuanya, dan ia dibawakan manisan mangga yang bisa dikatakan cukup berlimpah untuk kami ber enam puluh dikamar ini.
Dihitung nya berkali-kali butiran-butiran salak yan dibawakan Ibunya tadi. Namun tak ada yag berubah, jumlah nya tetap 38. Padahal jumlah penghuni kamar ini ada 60santri dan setiap santri harus mendapat bagian. Bagaimana mungkin 38 Salak untuk 60 santri. Hatinya galau. Mungkin kondisi perekonomian dirumah sedang tidak bagus, makanya Ibu hanya membawakan sekedarnya.
Tekadnya sudah bulat di baginya tiap butiran salak itu menjadi dua bagian.  Disisakannya 8 butir untuk disimpannya. Dengan segera ia masukkan salak-salak tadi kedalam kantongnya, takut ketahuan santri-santri yang lain.
***
Banyu masih asik dengan kain pelnya ketika teman-temannya berhamburan keluar kamar untuk shalat ashar berjamaah di masjid. Memang ada pengecualian untuk santri yang mendapat jadwal piket mengepel kamar, boleh tidak shalat ashar berjamaah dimasjid.
Setelah dirasa keadaan sudah aman, di kemasi lah peralatan pelnya. Segera ia berlari menuju lemari tempat ia menyimpan salak-salaknya tadi. Setiap satu lemari santri ditaruhnya setengah buah salak, begitulah sampai setiap atas lemari santri terdapat buah salak, yang tentunya hanya setengah. Oh iya, tak lupa ditaruh pula salak yang tinggal separuh itu diatas lemarinya, yang pastinya agar tidak ketahuan oleh santri yang lain.
***
“Wah , lihat teman. Aku mendapat salak. Siapa ini yang hais dapat kiriman?? Tapi tunggu... siapa yang makan salak ku. Kenapa tinggal setengah?” Seru Fadli kepada teman-temannya.
“Fadli coba kau tengok punya aku, rupanya punyaku juga ada yang makan ini. Dan Cuma disisakan setengah. Ih menyebalkan sekali.” Timpal Ismail.
Santri-santri lain pun menghampiri lemari masing-masing.
“Hai, rupanya bukan hanya milik kalian berdua  saja. Punya aku juga.”
Santri-santri lain juga saling bersahut-sahutan membicarakan salak yang tinggal setengah.
“Sudahlah ya akhi, kita nikmati saja rezeki sore ini. Tak usah kau ributkan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu diributkan. By the way, buat siapapun yang sudah berbagi kiriman ini kepada kami, saya ucapkan terimakasih banyak ya.” Seloroh Fuad si perut tambun dengan mulut mengunyah salak.
Suara dengungan santri-santri lain pun masih terdengar. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas ini kejadian pertama sejak mereka menjadi santri di pondok ini.
“Banyu, punya kau juga setengah ya.” Andi teman yang memiliki lemari sebelah Banyu bertanya.
Banyu hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kenapa Cuma setengah ya Banyu. Pelit kali. Dih, menyedihkan sekali anak yang memberi ini.” Kini Andi sedikit terkekeh.
Banyu hanya tersenyum kecut.
Ya Tuhan. Banyu hanya bisa membatin.