Senin, 16 Oktober 2017

Menemukan dan Ditemukan

Saat masa penantian begitu menjemukan. Sejatinya, sebelum seseorang menginginkan untuk ditemukan, haruslah ia dapat menemukan diri mereka dalam diri mereka sendiri.

Bagaimana ia bisa ditemukan. Sementara, pada dirinya ia melihat refleksi makhluk lain.

Man arafa nafsahu arafa Rabbahu.

Minggu, 03 Juli 2016

Basa Basi, Basi





 
Gambarnya diambil dari liputan 6.com yeeee :P

A : Loh tumben kok nyapu, dek?
B : Iya Budhe, jarang-jarang nih. Biasanya tinggal ayun tongkat, sapunya bisa nyapu sendiri. (Yang biasanya di batin  dengan, ‘kayaknya gw perlu bikin vlog kegiatan bersih-bersih rumah sehari-hari nih trus upload dengan judul: Replikasi Luna Lovegood dalam Kegiatan Sehari-Hari.)
------------------------

Sabtu, 08 Agustus 2015

Rindu pada Pohon Kersen

Sudah banyak rinduku yang mengapung di udara. Terlebih di langit malam minggu ini. Membaca buku, sesekali mengecek telpon selular. Ya, malam minggu ku memang sering kali setenang itu. Kali ini biarkan aku sedikit bercerita.

Rindu ini memang berbeda dari yang biasa. Hanya bisa terucap namun tak bisa tersentuh pun tak bisa kau raih meski kau harus terengah-engah dalam menggapainya. Ada pembatas yang jelas antara aku dan kerinduan padanya. Pembatas yang biasa ku sebut dengan dimensi waktu.

Waktu aku masih remaja belasan tahun aku sangat membenci suara bocah-bocah kecil di halaman rumah. Buatku saat itu mereka berisik. Tapi aku lupa. Dulu aku dan teman-teman lebih berisik. Pada awalnya aku bukanlah tipikal anak yang suka bermain di luar rumah. Teman-teman lebih senang mendatangi rumahku lalu kami bermain boneka atau bermain masak-masakan. Hingga akhirnya teman-temanku mulai naik level, mereka bosan,mereka tak lagi mengunjungiku. Kuberanikan diri untuk bermain di luar rumah, meski hanya diberi waktu tenggat 2jam, yang sudah pasti sering kali ku langgar.

Aku adalah seorang penakut hingga sampailah aku dibawa ke suatu tempat yang penuh pepohonan, rindang, banyak daun berserakan, sepi, tenang, dan menyeramkan jika datang sendirian.  Tanpa dikomando satu persatu temanku langsung memanjat pohon kersen bak monyet-monyet yang biasa aku lihat di kebun binatang. Mereka berburu buah kersen, dengan asiknya langsung petik lalu masukkan ke mulut. Sesekali mereka ngobrol kadang-kadang tertawa. Tinggalah aku di bawah pohon yang hanya bisa menikmati  opera tak berbayar. Pahit.

Sejak saat itu aku paham, hidup enak itu tidak mudah. Buktinya, jikalau ingin diteima di kelompok pertemanan secara kaffah harus bisa manjat pohon kersen. Yaa, meskipun itu peraturan tidak tertulis. Untungnya aku adalah fast learner, sehari coba panjat langsung bisa nangkring dengan aduhai.

Ya Tuhan, betapa waktu berjalan cepat atau aku yang terlalu tergesa-gesa menggulung masa? Mungkin rasanya nangkring diatas pohon kersen itu seperti duduk diatas tahta. Meski seberat apapun keengganan untuk turun, ada saja yang mengharuskan untuk turun. Entah karena matahari sudah mulai tergelincir, ibu-ibu kami yang mulai mengomel, atau karena si tuan rumah/pemilik kebun mengusir kami yang terlalu berisik.

Faktanya rindu itu akan selalu ada. Meski tak bisa saling menatap, percayalah ia akan selalu tersimpan dalam ruang jiwa  yang akan selalu siap kau buka kapanpun engkau mau.

Rabu, 01 Juli 2015

Makna dan Kamu

Malam ini, biarkan aku menuliskan sesuatu tentang kamu.
Aku pernah merangkai mimpi bersamamu, di suatu senja dengan awan berarak
Kita pernah berjanji untuk saling mengisi mozaik-mozaik kehidupan kita
Masih ingatkah kamu tentang senja sore itu?
Itu dulu, jauh sebelum kita hidup di realitas
Ketika aku dan kamu masih bebas menari di sela awan yang menggumpal
Ketika aku dan kamu masih bebas berlarian diantara debur ombak
Ketika aku dan kamu masih bebas berkelakar dalam malam genting
Tapi tenang saja, selama ada kamu aku percaya hidup ku akan baik-baik saja
Meski kini kita  berada pada masa lebih banyak kurangnya daripada lebihnya
Masa dimana salah lebih banyak daripada benarnya
Ingatkah kamu, pernah beberapa kali ditengah jalan aku tertunduk pasrah
Aku yang hampir menyerah
Yang ternyata pikirku tidak lebih panjang dari tanganmu
Tangan yang memelukku waktu itu
Memeluk asa ku, memeluk mimpiku
Ketahuilah, aku memang masih bisa hidup tanpamu
Tapi hidupku jauh lebih bermakna sejak ada kamu :)

Jumat, 09 Januari 2015

Kamu Siapa?

“Mbak, aku sebel sama si X. Dia ceramahin aku terus gara-gara bla..bla..bla…”
“Dia siapa kamu?”
“Bukan siapa-siapa juga. Kenal deket juga engga.” Jawabnya bersungut-sungut.
“Ngasih uang jajan? Bayarin Sekolah? Jamin masa depan kamu hidup yang ga sekedar hidup?”
“Engga juga.”
“Udah, suruh dia ngerjain tugas kuliahnya daripada sibuk ngurusin kamu. Jangan kaget nak, kita sedang hidup di jaman banyak orang yang lebih suka ngribetin hidup orang lain ketimbang ngurusin hidup mereka sendiri. Kek idup udah pade bener aje.” 

Aku yakin ga Cuma adekku aja yang ngalamin demikian. Masalah recok-merecoki hidup orang kayaknya udah hampir jadi habit yang nggilani. Mau bukti? Buka aja tweet-tweet dari selebtwit, pasti ada aja yang nyinyirin, yang ngasi petuah kek udah akrab dari jaman cimit. Mau contoh nyata lainnya, sesekali tengoklah instagram para artis. They Judge them like they know them so well. Apeu.

Kita ini ngerti apa sih soal kehidupan orang lain, bisa jadi kita hanya tau mereka punya nama tapi tak pernah tau mereka punya cerita. Kita ndak pernah ngerti kan tentang apa yang mereka lalui, jadi apa hak kita buat menghakimi mereka. Masih keukeuh? Situ Tuhan?

Dan satu lagi yang penting…



Hemm… Masih ngeyel? Atau jangan-jangan situ yang suka ngribetin hidup orang memang dinobatkan sebagai satu spesies yang dijaga kelestariannya, untuk menjaga stabilitas kehidupan. Biar hidup ada gemes-gemesnya gitu. Iya gitu. Dan Kamu yang juga belum sadar kalo masuk golongan spesies nyebelin itu? Good Luck aja! :P

Minggu, 11 Mei 2014

Hai, selamat dini hari kasihku

Hai, selamat dini hari kasihku
Maaf, jika aku menyapamu sedini ini
Maaf pula, ketika aku menyapamu tanpa sua
Maaf, ketika aku hanya menitipkannya pada angin malam yang blm pasti kesetiaannya
Karna bagiku kau sungguh teramat jauh, sulit bagiku untuk merengkuh.
Atau mungkin kau memang dekat, namun hadirmu kabur di malam pekat

Apa kabar kasihku
Aku tau kau begitu mengharu biru menjalani takdirmu
Setidaknya itu ucapmu

Disini, aku mencoba percaya, dalam diamnya aku dan kamu
Tanpa kita harus bertemu, tanpa kita harus beradu
Jiwa kita saling mengadu, tangan kita terangkat, doa yang semakin menderu

Wahai kasihku, tengoklah aku disini
Tanpa aku harus merasa sendiri
Aku tidak meminta seluruh waktumu ini
Tolong jangan pernah biarkan aku merasa aku tak butuh kamu (lagi)

*Maaf, jika ini terlihat rancu bagimu, bukan kamu yang aku tuju.
Karena kasihku, mencintaiku dengan segala keabsurdanku.

Sabtu, 21 September 2013

Self Talking



Have you heard about self talking. Well, aku sih ngga ngerti-ngerti amat istilah buat orang yang suka ngomong sama diri mereka sendiri. Most of people said kalo orang yang suka ngomong sendiri itu gila, kurang waras, dan agak sinting. Dan jujur, saya juga pernah memberi judgement serupa.
Tapi yang perlu diketahui adalah, tidak semua orang tertarik dengan apa yang kita bicarakan. Meski kita sadar bahwa cerita kita memang sangat menarik at least bagi diri kita, tapi tidak dengan orang lain. Ekspresi orang yang melakukan penolakan terhadap cerita tentang diri kita adalah dengan cuma, ber “ohh.. ohh” ria, atau dengan , “iya” “terus?” itu penolakan secara halus meskipun memang ada sebagian orang benar-benar tulus mengucap itu (sebagai bentuk apresiasi mungkin ? :p ) dan yang paling fatal adalah dengan ekspresi nguap-nguap ga jelas, garuk-garuk atao gerakan-gerakan gelisah buat nunjukin ketidaknyamanannya.
But, hey,,, you don’t need to be worry.  Bukankah manusia sebaik-baik penjaga hati adalah diri kita sendiri ?  Kalo bukan diri kita siapa lagi? So? Baiklah mari kita link kan paragraf-paragraf diatas. Ga usah menampik semua orang pasti ingin di akui eksistensinya, pengen mengungkapkan tentang diri mereka sendiri sebagai perwujudan “ ini lhoo.. gw ada”.  Jadi, ketika orang lain lelah mendengar atau  ketika hal terlalu absurd dan terlalu privat untuk diungkapkan kepada orang lain. Why don’t you talk to yourself? Walopun  benar, tidak ada second opinion dari pihak lain. Setidaknya kita merasa lega. Bahkan ketika orang lain terlalu rumit bahkan ruwet, bicara kepada diri sendiri itu penting ! Siapa yang harus paling ngerti diri kita? Kita sendiri kan? Let’s try self talking. (tapi kalo ga mau dianggap sinting sama orang lain yang ga ngerti betapa penting nya self talking. Mending diruang yg bener-bener cuma ada kita). Wish you luck ! :P

*note : tanpa sadar atau dengan kesadaran penuh saya sering self talking. Sekedar biar lega, atau untuk meyakinkan diri sendiri.  \(^_^)/

Selasa, 20 Agustus 2013

Kesesatan Pikir dalam Dunia Pendidikan Kini


Beberapa hari terakhir ini santer terdengar mengenai  wacana kebijakan Dinas Pendidikan Kota Prabumulih Sumatera Selatan, mengenai penerapan pembuktian  keperawanan bagi semua siswi sekolah di Prabumulih. Yang secara langsung apabla kebijakan ini diterapkan akan menutup akses pendidikan bagi siswi yang terbukti tidak lagi perawan. Adanya wacana kebijakan tersebut didasari oleh maraknya kasus prostitusi dikalangan pelajar. Oleh sebab itu melalui kebijakan ini diharapkan mampu menekan angka seks bebas maupun prostitusi. Namun apakah wacana yang akan diperjuangkan untuk masuk dalam anggaran APBD 2014  ini merupakan cara efektif dalam menekan angka seks bebas maupun praktek prostitusi dikalangan pelajar?
Sebuah kebijakan hendaklah di proses secara matang sebelum di undangkan kepada masyarakat. Pihak pembuat kebijakan harus mampu memprediksi manfaat apakah yang akan didapat, dan resiko apakah yang akan muncul jika kebijakan ini dibuat. Apabila kebijakan yang dibuat memberikan manfaat yang tidak sebanding dengan resiko yang akan muncul, maka sudah sepantasnya pihak pembuat kebijakan mengkaji ulang kebijakan tersebut.
Lalu apakah wacana mengenai kebijakan test keperawanan pada siswi  sekolah tersebut sudah pantas untuk diterapkan? Ya, mungkin  dengan adanya test keperawanan pada siswi sekolah  mampu menjadikan shock therapy  bagi para siswi agar merasa takut ketika hendak melakukan seks bebas. Sayangnya kebijakan ini membawa serentetan resiko yang mungkin timbul apabila kebijakan ini benar-benar diterapkan.
Ketika seseorang siswi melakukan test keperawanan, dan ternyata ia terbukti tidak lagi perawan maka secara otomatis akses pendidikan terhadap siswi tersebut akan terputus. Ketika akses pendidika ini tertutup maka akan membawa efek domino. Bayangkan ketika moral seorang siswi tersebut membengkok bukankah sudah seharusnya kita meluruskan moral siswi tersebut, bukan malah membuatnya semakin bengkok. Dengan tertutupnya akses pendidikan ini, maka kehidupan seorang siswi tersebut tak lagi terarah. Bisa jadi praktek prostitusi semakin marak, belum lagi angka pernikahan usia dini semakin menanjak. Mengingat salah satu fungsi laten pendidikan adalah menunda usia pernikahan.
Dilain sisi, perempuan disiapkan untuk menjadi seorang ibu. Mereka didesain utuk menciptakan generasi penerus. Maka dari itu perempuan berada pada garda terdepan dalam mencetak generasi penerus yang berkualitas. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa, “Perempuan adalah tiang negara, kalau perempuan rusak maka rusaklah negara.” Hal ini mengingatkan urgensi peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Lantas apabila, akses pendidikan ini tertutup untuk siswi yang tak lagi perawan, bagaimana nasib generasi penerus kelak? Akankah menjadi generasi penerus dengan kualitas rendah dan terpinggirkan?
Selain itu, pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada pasal 31 ayat 1 menyebutkan bahwa, “ Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Melalui pasal tersebut maka jelas tertera bahwa pendidikan adalah hak bagi seluruh warga negara, baik laki-laki maupun perempuan, baik siswi yang masih perawan maupun yang sudah tidak perawan. Dengan adanya penerapan kebijakan pembuktian keperawanan maka secara otomatis hal ini sangat bertentangan dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang merupakan landasan hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ditinjau dari sisi psikologi, ketika kebijakan ini diterapkan, maka bagi siswi yang terbukti tidak perawan melalui test yang digelar oleh badan yang ditunjuk akan memberikan dampak psikologi yang cukup mendalam. Seperti perasaan tertekan, perasaan malu,bahkan berpotensi dikucilkan oleh lingkungannya. Adanya kebijakan ini juga dirasa sangat diskrimintif, karena pada kenyataanya perilaku seks bebas tidak hanya dilakukan oleh kaum perempuan. Selama manusia itu memiliki orientasi seksual normal, maka tidak akan pernah terjadi seks bebas jika tidak ada kaum laki-laki sebagai ‘partner’ dalam perilaku tersebut. Lalu mengapa pemberian ‘hukuman’ hanya dibebankan pada kaum perempuan, padahal kaum lelaki pun juga memiliki andil porsi yang sama dengan kaum perempuan?
Untuk penekankan angka seks bebas serta praktek prostitusi pada kalangan pelajar, maka penerapan kebijakan test keperawanan bukanlah solusi yang tepat. Mengingat manfaatnya tidak lebih besar dari fakor resiko yang mungkin timbul. Sebagai tindakan penanggulangan maupun tindakan preventif dalam menekan angka seks bebas serta praktek prostitusi pada kalangan pelajar, Dinas Pendidikan selaku institusi yang berwenang bisa memasukkan pendidikan seks atau sex education ke dalam kurikulum satuan pendidikan. Pedekatan secara persuasif dirasa lebih efektif, mengingat pelajar yang notabene berada pada usia pubertas dengan kejiwaan yang masih sangat labil. Karena pendekatan yang cenderung memberikan penakanan akan membuat pelajar semakin gencar untuk melakukan tindakan menyimpang. Mengingat masa pubertas adalah masa dimana ketika semakin dilarang tanpa penjelasan yang konkret dan rasional akan membuat seseorang bertindak menerobos batasan (larangan) yang telah dibuat. That's mine. Kalo menurut kamu ?

Selasa, 06 Agustus 2013

andai teman bisa dijual pun dibeli :))


'Aku pikir ketika berteman tidak lagi  menguntungkan, lebih baik aku putuskan saja hubungan pertemanan kami. Kamu tahu kan aku ini haus ilmu, aku butuh partner diskusi, dari ekonomi, politik bahkan mungkin cinta. Mereka ga akan pernah nyampe kalo aku ajak  bahas begituan. Dengan mereka aku ndak berkembang. Aku lebih senang berteman sama kamu,aku suka cara berpikirmu.' Kira-kira begitulah kata teman satu fakultas yang baru aku kenal belum lama ini.
Ya, kami memang sangat nyambung. Dari masalah remeh temeh sampai masalah kompleks yang bahkan umur kami belum pantas untuk membahasnya. Tapi kerongkonganku seperti tercekat, ketika aku mendengar ucapannya barusan. Aku baru saja menemukan teman yang aku anggap baik, teman yang aku anggap sama seperti 'sahabat' atau entahlah namanya. Aku merasa aku satu frekuensi dengannya, jadi kemanapun alur pembicaraan kami bergulir, kami hampir selalu selaras. Walopun meskipun aku lebih suka mendominasi karena faktor usia ku yang lebih tua.
Yang mengusik pikiranku saat ini adalah ketika suatu saat nanti aku tak bisa memenuhi apa yang bisa dia ambil dari sebuah pertemanan kami, apakah dia juga akan meninggalkan ku. Sama seperti teman-teman yang ia maksud? Mungkin nasib serupa juga akan menimpaku. Dan aku pun hanya bisa tersenyum kecut membayangkan hal itu.
******
Aku merapatkan punggungku pada sandaran kursi empuk depan layar komputer layar datar ini. Aku melirik smartphone ku, tanganku meraihnya dengan sigap. Bunyi cetak cetik mulai terdengar,sesaat aku melihat foto nya dengan selembar senyum manis pada barisan kontak pada aplikasi instant messaging ku. Pikiran ku menerawang, mengingat ucapannya tempo hari. Jika memang begitu lantas apakah hubungan pertemanan itu sama seperti kita berdagang? Ketika itu benar menguntungkan kita mengambilnya, ketika tidak ,tinggalkan.
Oke aku mulai terima, mengingat sifat manusia tidak ada yang mau rugi. Tapi? Apakah iya pertemanan hanya serendah, kamu bisa beri aku apa kalo aku mau jadi temanmu? Isshhh.. Nampaknya aku belum benar-benar bisa terima dengan hal ini.
Aku tak pernah menganggap diriku paling benar dalam segala hal termasuk hal ini. Tapi izinkanlah aku mereka ulang, bagaimana aku bisa membentuk pertemanan.
Pada awalnya,dalam berteman aku tak pernah berpikir aku akan dapat apa dari calon teman ku ini, ihhh aku ini mau temenan bukan mau jualan. Bahkan aku selalu setuju sama penggalan dalam lagu Sheila on 7, kalo arti teman lebih dari sekedar materi. Kalo kita tak temukan teman yang bisa  memenuhi kebutuhan kita, apa yang kita inginkan,pemenuhan atas ‘materi’ yang apabila kita tidak berteman kita harus mengeluarkan cost untuk mendapatkannya, bukankah mereka bisa menjadi best supporter dalam hidup kita. Yup, supporter untuk usaha pencapaian pemenuhan kebutuhan kita. Jangan pernah meremehkan, peran supporter. Dia bisa memberikan tambahan daya lebih dari beribu-ribu kilo watt bahkan ketika kita dalam titik terbawah, kita bisa melesat ke puncak kurva. Bukan begitu?
Buat saya teman baik atau sahabat atau apalah kalian menyebutkan,  selalu bisa menjadi rumah buat kita. Tempat untuk pulang, tempat bernaung, tempat berlindung sekalipun. Dimana kita selalu rindu, ketika kita telah berjalan jauh berkilo-kilometer. Tempat yang selalu bisa membuat kita merasa rindu ingin segera kembali, tempat yang bisa membuat kita terlelap dengan nyaman karena buaiannya, tempat yang selalu bisa menenangkan saat tangis kita membuncah.
Walaupun teman-teman terbaik saya belum bisa banyak menyembuhkan dahaga keilmuan saya, tapi setidaknya mereka selalu berada dalam garda terdepan untuk menjadi penyemangat saya, mereka selalu siap mengembangkan layar semangat saya. Kapanpun saya butuh. Mereka mungkin tidak bisa memberikan langsung, tapi mereka selalu menyediakan ladang tempat saya belajar, bahkan dalam kehidupan mereka. Saya tidak perlu meminta, tapi mereka memberi. Bukankah itu esensi dari sebuah pertemanan baik, persahabatan, atau entahlah dengan apa kalian menyebutnya ?


24 Juli 2013,kantor dengan pendingin ruangan yang membuatku kedinginan, tapi hatiku selalu hangat dan mekar jika aku mengingat mereka, teman-teman terbaikku. 

Minggu, 21 Juli 2013

my own race



Ramadhan 2013

Aku selalu bersyukur bisa menjumpai setiap ramadhan hingga saat ini. Aku mencintai ramadhan dengan segala tetek bengeknya yang hampir selalu membuatku kepayahan. Tapi aku sangat menikmatinya, mencintainya lebih dari aku mencintai bulan kelahiran ku sendiri. Kenapa aku harus berduka bertemu ramadhan, ketika di mata ku ramadhan itu seperti goa yang dipenuhi dengan emas dan berlian sedangkan aku ini seorang musafir yang haus bekal untuk hidupku kelak. Anggaplah kalimat sebelum ini berlatar gurun pasir di jazirah Arab. Dan aku? Bayangkan saja aku memakai gamis panjang dengan kerudung dan cadar transparan yang menutupi hidung. Oh iya, jangan lupa aku menuntun seekor keledai. Kenapa bukan Kuda? Entahlah, aku lebih suka memilih menggambarkan diriku yang menuntun seekor keledai tinimbang kuda.
Lantas jika kau berada pada posisi yang sama sepertiku, apa yang akan kau lakukan ketika engkau telah berada dalam goa yang aku ceritakan tadi? Aku rasa kau akan berlaku sama dengan apa yang aku  lakukan. Ya, aku akan meraih emas dan berlian tersebut dengan segala jerih payahku. Bukannya aku serakah, aku hanya ingin aku tidak kekurangan bekal di kehidupanku kelak. Kau harus tau, kehidupanku kelak itu tidak lah mudah. Ya, begitulah seperti yang pernah aku baca.
Aku tak pernah sehebat seperti saat ramadhan, aku bisa makan sambil merem, berlembar-lembar baca Quran, atau bahkan lari kepayahan karena mendengar suara iqamah ke masjid untuk shalat tarawih. Aku tak yakin aku bisa melakukan itu selain di bulan ini. Atau aku yang rela bokek karena harus menghadiri buka bersama teman-temanku. Yah antrian buka bersama ku dengan beberapa kelompok, dari teman SD hingga teman-temanku kuliah, belum ditambah bersama teman-teman di organisasi-organisasi yang aku ikuti. Oh iya, teman-teman mainku juga tak luput untuk selalu mengagendakan buka bersama. Ah, bagiku apalah arti sebuah uang kalo aku bisa melepas rindu, membuka kenangan yang tersimpan dalam memori otak kami. Bukan untuk dirutuki, untuk dimunculkan kembali ditengah kami yang sudah banyak berubah. Menertawakan masa lalu kami bahkan bisa menjadi hiburan alternatif di segala himpitan pada fase pertumbuhan kami.
Membicarakan kenangan di bulan ramadhan, tak akan pernah lepas dari kamu, teman kecilku. Betapa aku merindukan kalian. Merindukan masa ketika kita tumbuh bersama, bertukar cerita, berbagi duka dan membuat keonaran kecil ala anak bau kencur. Aku tak bisa menahan senyum-senyum kecil ketika mengingat betapa usil nya kita diwaktu yang telah lalu. Seingatku kita pernah berjanji untuk terus bersama. Tapi entah mengapa, aku rasa janji itu hanyut bersama arus pertumbuhan kita.
Buatku menyakitkan adalah ketika pernah bersama, memahat sejarah bersama untuk kehidupan kita masing-masing, namun setelah kita mengenal apa itu bedak dan lipgloss kita seolah lupa kalau kita pernah memahat bersama. Aku benci ketika kau benar-benar pergi, tapi kenangan mu tak pernah kau bawa pergi bersama mu juga. Aku benci harus berpura-pura acuh tak acuh, padahal aku sangat ingin menyapa mu. Ya mungkin salah ku juga, karena aku larut dalam jebakan gengsi yang (mungkin)tanpa sengaja kita buat.
Atau bahkan tanpa sengaja kita telah sama-sama membuat dinding ego kita masing-masing, membangunnya setinggi-tingginya. Untuk sekedar tahu siapa yang paling hebat diantara kita. Tapi kali ini aku menuliskannya dengan sadar, aku sedang tak berkompetisi dengan siapapun, SIAPAPUN. Aku berlari pada lintasan ku sendiri. Aku tak memiliki hasrat untuk lebih baik dari siapapun.  Aku hanya berada pada lintasan ku, berlomba dengan diriku sendiri,bahwa aku harus lebih baik dari aku sebelumnya. Karena itu lebih membuatku bahagia. Ya, bahagia.