Sudah banyak rinduku yang mengapung di
udara. Terlebih di langit malam minggu ini. Membaca buku, sesekali mengecek
telpon selular. Ya, malam minggu ku memang sering kali setenang itu. Kali ini
biarkan aku sedikit bercerita.
Rindu ini memang berbeda dari yang biasa. Hanya
bisa terucap namun tak bisa tersentuh pun tak bisa kau raih meski kau harus
terengah-engah dalam menggapainya. Ada pembatas yang jelas antara aku dan
kerinduan padanya. Pembatas yang biasa ku sebut dengan dimensi waktu.
Waktu aku masih remaja belasan tahun aku
sangat membenci suara bocah-bocah kecil di halaman rumah. Buatku saat itu
mereka berisik. Tapi aku lupa. Dulu aku dan teman-teman lebih berisik. Pada awalnya
aku bukanlah tipikal anak yang suka bermain di luar rumah. Teman-teman lebih
senang mendatangi rumahku lalu kami bermain boneka atau bermain masak-masakan. Hingga
akhirnya teman-temanku mulai naik level, mereka bosan,mereka tak lagi
mengunjungiku. Kuberanikan diri untuk bermain di luar rumah, meski hanya diberi
waktu tenggat 2jam, yang sudah pasti sering kali ku langgar.
Aku adalah seorang penakut hingga sampailah
aku dibawa ke suatu tempat yang penuh pepohonan, rindang, banyak daun
berserakan, sepi, tenang, dan menyeramkan jika datang sendirian. Tanpa dikomando satu persatu temanku langsung
memanjat pohon kersen bak monyet-monyet yang biasa aku lihat di kebun binatang.
Mereka berburu buah kersen, dengan asiknya langsung petik lalu masukkan ke
mulut. Sesekali mereka ngobrol kadang-kadang tertawa. Tinggalah aku di bawah
pohon yang hanya bisa menikmati opera
tak berbayar. Pahit.
Sejak saat itu aku paham, hidup enak itu
tidak mudah. Buktinya, jikalau ingin diteima di kelompok pertemanan secara
kaffah harus bisa manjat pohon kersen. Yaa, meskipun itu peraturan tidak
tertulis. Untungnya aku adalah fast learner, sehari coba panjat langsung
bisa nangkring dengan aduhai.
Ya Tuhan, betapa waktu berjalan cepat atau
aku yang terlalu tergesa-gesa menggulung masa? Mungkin rasanya nangkring diatas
pohon kersen itu seperti duduk diatas tahta. Meski seberat apapun keengganan untuk
turun, ada saja yang mengharuskan untuk turun. Entah karena matahari sudah
mulai tergelincir, ibu-ibu kami yang mulai mengomel, atau karena si tuan rumah/pemilik
kebun mengusir kami yang terlalu berisik.
Faktanya rindu itu akan selalu ada. Meski tak
bisa saling menatap, percayalah ia akan selalu tersimpan dalam ruang jiwa yang akan selalu siap kau buka kapanpun engkau
mau.
0 komentar:
Posting Komentar