Sabtu, 08 Agustus 2015

Rindu pada Pohon Kersen

Sudah banyak rinduku yang mengapung di udara. Terlebih di langit malam minggu ini. Membaca buku, sesekali mengecek telpon selular. Ya, malam minggu ku memang sering kali setenang itu. Kali ini biarkan aku sedikit bercerita.

Rindu ini memang berbeda dari yang biasa. Hanya bisa terucap namun tak bisa tersentuh pun tak bisa kau raih meski kau harus terengah-engah dalam menggapainya. Ada pembatas yang jelas antara aku dan kerinduan padanya. Pembatas yang biasa ku sebut dengan dimensi waktu.

Waktu aku masih remaja belasan tahun aku sangat membenci suara bocah-bocah kecil di halaman rumah. Buatku saat itu mereka berisik. Tapi aku lupa. Dulu aku dan teman-teman lebih berisik. Pada awalnya aku bukanlah tipikal anak yang suka bermain di luar rumah. Teman-teman lebih senang mendatangi rumahku lalu kami bermain boneka atau bermain masak-masakan. Hingga akhirnya teman-temanku mulai naik level, mereka bosan,mereka tak lagi mengunjungiku. Kuberanikan diri untuk bermain di luar rumah, meski hanya diberi waktu tenggat 2jam, yang sudah pasti sering kali ku langgar.

Aku adalah seorang penakut hingga sampailah aku dibawa ke suatu tempat yang penuh pepohonan, rindang, banyak daun berserakan, sepi, tenang, dan menyeramkan jika datang sendirian.  Tanpa dikomando satu persatu temanku langsung memanjat pohon kersen bak monyet-monyet yang biasa aku lihat di kebun binatang. Mereka berburu buah kersen, dengan asiknya langsung petik lalu masukkan ke mulut. Sesekali mereka ngobrol kadang-kadang tertawa. Tinggalah aku di bawah pohon yang hanya bisa menikmati  opera tak berbayar. Pahit.

Sejak saat itu aku paham, hidup enak itu tidak mudah. Buktinya, jikalau ingin diteima di kelompok pertemanan secara kaffah harus bisa manjat pohon kersen. Yaa, meskipun itu peraturan tidak tertulis. Untungnya aku adalah fast learner, sehari coba panjat langsung bisa nangkring dengan aduhai.

Ya Tuhan, betapa waktu berjalan cepat atau aku yang terlalu tergesa-gesa menggulung masa? Mungkin rasanya nangkring diatas pohon kersen itu seperti duduk diatas tahta. Meski seberat apapun keengganan untuk turun, ada saja yang mengharuskan untuk turun. Entah karena matahari sudah mulai tergelincir, ibu-ibu kami yang mulai mengomel, atau karena si tuan rumah/pemilik kebun mengusir kami yang terlalu berisik.

Faktanya rindu itu akan selalu ada. Meski tak bisa saling menatap, percayalah ia akan selalu tersimpan dalam ruang jiwa  yang akan selalu siap kau buka kapanpun engkau mau.

0 komentar:

Posting Komentar