Ramadhan
2013
Aku selalu
bersyukur bisa menjumpai setiap ramadhan hingga saat ini. Aku mencintai
ramadhan dengan segala tetek bengeknya yang hampir selalu membuatku kepayahan.
Tapi aku sangat menikmatinya, mencintainya lebih dari aku mencintai bulan
kelahiran ku sendiri. Kenapa aku harus berduka bertemu ramadhan, ketika di mata
ku ramadhan itu seperti goa yang dipenuhi dengan emas dan berlian sedangkan aku
ini seorang musafir yang haus bekal untuk hidupku kelak. Anggaplah kalimat
sebelum ini berlatar gurun pasir di jazirah Arab. Dan aku? Bayangkan saja aku
memakai gamis panjang dengan kerudung dan cadar transparan yang menutupi
hidung. Oh iya, jangan lupa aku menuntun seekor keledai. Kenapa bukan Kuda?
Entahlah, aku lebih suka memilih menggambarkan diriku yang menuntun seekor
keledai tinimbang kuda.
Lantas jika
kau berada pada posisi yang sama sepertiku, apa yang akan kau lakukan ketika
engkau telah berada dalam goa yang aku ceritakan tadi? Aku rasa kau akan
berlaku sama dengan apa yang aku
lakukan. Ya, aku akan meraih emas dan berlian tersebut dengan segala
jerih payahku. Bukannya aku serakah, aku hanya ingin aku tidak kekurangan bekal
di kehidupanku kelak. Kau harus tau, kehidupanku kelak itu tidak lah mudah. Ya,
begitulah seperti yang pernah aku baca.
Aku tak
pernah sehebat seperti saat ramadhan, aku bisa makan sambil merem,
berlembar-lembar baca Quran, atau bahkan lari kepayahan karena mendengar suara
iqamah ke masjid untuk shalat tarawih. Aku tak yakin aku bisa melakukan itu
selain di bulan ini. Atau aku yang rela bokek karena harus menghadiri buka
bersama teman-temanku. Yah antrian buka bersama ku dengan beberapa kelompok,
dari teman SD hingga teman-temanku kuliah, belum ditambah bersama teman-teman
di organisasi-organisasi yang aku ikuti. Oh iya, teman-teman mainku juga tak
luput untuk selalu mengagendakan buka bersama. Ah, bagiku apalah arti sebuah
uang kalo aku bisa melepas rindu, membuka kenangan yang tersimpan dalam memori
otak kami. Bukan untuk dirutuki, untuk dimunculkan kembali ditengah kami yang
sudah banyak berubah. Menertawakan masa lalu kami bahkan bisa menjadi hiburan
alternatif di segala himpitan pada fase pertumbuhan kami.
Membicarakan
kenangan di bulan ramadhan, tak akan pernah lepas dari kamu, teman kecilku. Betapa
aku merindukan kalian. Merindukan masa ketika kita tumbuh bersama, bertukar
cerita, berbagi duka dan membuat keonaran kecil ala anak bau kencur. Aku tak
bisa menahan senyum-senyum kecil ketika mengingat betapa usil nya kita diwaktu
yang telah lalu. Seingatku kita pernah berjanji untuk terus bersama. Tapi entah
mengapa, aku rasa janji itu hanyut bersama arus pertumbuhan kita.
Buatku
menyakitkan adalah ketika pernah bersama, memahat sejarah bersama untuk
kehidupan kita masing-masing, namun setelah kita mengenal apa itu bedak dan
lipgloss kita seolah lupa kalau kita pernah memahat bersama. Aku benci ketika
kau benar-benar pergi, tapi kenangan mu tak pernah kau bawa pergi bersama mu
juga. Aku benci harus berpura-pura acuh tak acuh, padahal aku sangat ingin
menyapa mu. Ya mungkin salah ku juga, karena aku larut dalam jebakan gengsi
yang (mungkin)tanpa sengaja kita buat.
Atau bahkan
tanpa sengaja kita telah sama-sama membuat dinding ego kita masing-masing,
membangunnya setinggi-tingginya. Untuk sekedar tahu siapa yang paling hebat
diantara kita. Tapi kali ini aku menuliskannya dengan sadar, aku sedang tak
berkompetisi dengan siapapun, SIAPAPUN. Aku berlari pada lintasan ku sendiri.
Aku tak memiliki hasrat untuk lebih baik dari siapapun. Aku hanya berada pada lintasan ku, berlomba
dengan diriku sendiri,bahwa aku harus lebih baik dari aku sebelumnya. Karena
itu lebih membuatku bahagia. Ya, bahagia.