Minggu, 21 Juli 2013

my own race



Ramadhan 2013

Aku selalu bersyukur bisa menjumpai setiap ramadhan hingga saat ini. Aku mencintai ramadhan dengan segala tetek bengeknya yang hampir selalu membuatku kepayahan. Tapi aku sangat menikmatinya, mencintainya lebih dari aku mencintai bulan kelahiran ku sendiri. Kenapa aku harus berduka bertemu ramadhan, ketika di mata ku ramadhan itu seperti goa yang dipenuhi dengan emas dan berlian sedangkan aku ini seorang musafir yang haus bekal untuk hidupku kelak. Anggaplah kalimat sebelum ini berlatar gurun pasir di jazirah Arab. Dan aku? Bayangkan saja aku memakai gamis panjang dengan kerudung dan cadar transparan yang menutupi hidung. Oh iya, jangan lupa aku menuntun seekor keledai. Kenapa bukan Kuda? Entahlah, aku lebih suka memilih menggambarkan diriku yang menuntun seekor keledai tinimbang kuda.
Lantas jika kau berada pada posisi yang sama sepertiku, apa yang akan kau lakukan ketika engkau telah berada dalam goa yang aku ceritakan tadi? Aku rasa kau akan berlaku sama dengan apa yang aku  lakukan. Ya, aku akan meraih emas dan berlian tersebut dengan segala jerih payahku. Bukannya aku serakah, aku hanya ingin aku tidak kekurangan bekal di kehidupanku kelak. Kau harus tau, kehidupanku kelak itu tidak lah mudah. Ya, begitulah seperti yang pernah aku baca.
Aku tak pernah sehebat seperti saat ramadhan, aku bisa makan sambil merem, berlembar-lembar baca Quran, atau bahkan lari kepayahan karena mendengar suara iqamah ke masjid untuk shalat tarawih. Aku tak yakin aku bisa melakukan itu selain di bulan ini. Atau aku yang rela bokek karena harus menghadiri buka bersama teman-temanku. Yah antrian buka bersama ku dengan beberapa kelompok, dari teman SD hingga teman-temanku kuliah, belum ditambah bersama teman-teman di organisasi-organisasi yang aku ikuti. Oh iya, teman-teman mainku juga tak luput untuk selalu mengagendakan buka bersama. Ah, bagiku apalah arti sebuah uang kalo aku bisa melepas rindu, membuka kenangan yang tersimpan dalam memori otak kami. Bukan untuk dirutuki, untuk dimunculkan kembali ditengah kami yang sudah banyak berubah. Menertawakan masa lalu kami bahkan bisa menjadi hiburan alternatif di segala himpitan pada fase pertumbuhan kami.
Membicarakan kenangan di bulan ramadhan, tak akan pernah lepas dari kamu, teman kecilku. Betapa aku merindukan kalian. Merindukan masa ketika kita tumbuh bersama, bertukar cerita, berbagi duka dan membuat keonaran kecil ala anak bau kencur. Aku tak bisa menahan senyum-senyum kecil ketika mengingat betapa usil nya kita diwaktu yang telah lalu. Seingatku kita pernah berjanji untuk terus bersama. Tapi entah mengapa, aku rasa janji itu hanyut bersama arus pertumbuhan kita.
Buatku menyakitkan adalah ketika pernah bersama, memahat sejarah bersama untuk kehidupan kita masing-masing, namun setelah kita mengenal apa itu bedak dan lipgloss kita seolah lupa kalau kita pernah memahat bersama. Aku benci ketika kau benar-benar pergi, tapi kenangan mu tak pernah kau bawa pergi bersama mu juga. Aku benci harus berpura-pura acuh tak acuh, padahal aku sangat ingin menyapa mu. Ya mungkin salah ku juga, karena aku larut dalam jebakan gengsi yang (mungkin)tanpa sengaja kita buat.
Atau bahkan tanpa sengaja kita telah sama-sama membuat dinding ego kita masing-masing, membangunnya setinggi-tingginya. Untuk sekedar tahu siapa yang paling hebat diantara kita. Tapi kali ini aku menuliskannya dengan sadar, aku sedang tak berkompetisi dengan siapapun, SIAPAPUN. Aku berlari pada lintasan ku sendiri. Aku tak memiliki hasrat untuk lebih baik dari siapapun.  Aku hanya berada pada lintasan ku, berlomba dengan diriku sendiri,bahwa aku harus lebih baik dari aku sebelumnya. Karena itu lebih membuatku bahagia. Ya, bahagia.

Senin, 01 Juli 2013

staring

dua orang yang saling menatap dalam diam itu sebenarnya tidak pernah benar-benar diam, hati dan pikirannya ricuh.