“Hei,kamu.
Siapa yang suruh lepas topi anyaman daun nangka nya??”
Itulah
kalimat sekaligus sentakan pertama yang ia tujukan langsung untukku pertama
kali. Dongkol dan serasa ingin mencubit lengannya kala itu. Tapi aku hanyalah
seorang peserta Orientasi Mahasiswa Baru yang tak punya kuasa apapun. Yang bisa
kulakukan saat itu hanyalah berkeyakinan aku akan meng-skak matt nya nanti.
Perasaan
ingin menjatuhkannya pun semakin menggebu-gebu. Kami terlibat persilatan
argumentasi. Perdebatan yang sangat sengit. Berhasil menyudutkannya di dalam
forum dan membuatnya “melarikan” isu dari perdebatan kala itu cukup membuatku
bisa tidur agak nyenyak malam itu.
-----------------------**-------------------------
“Hei,kamu
disini ya?”
Kalimat
lembutnya membuat aku tersentak. Dan aku hanya bisa terdiam menyambut uluran
tangannya. Kala itu dia nampak berbeda dengan saat pertama kali kami bertemu.
Halus , lembut dan sangat ramah.
Mulai
saat itu kami sering terlibat diskusi hangat namun cukup menguras otak. Dari
hal paling sepele dalam kehidupan sampai hal yang paling kompleks. Dia sering
berhasil membolak-balikkan pemikiran ku. Dan dia selalu berhasil membuat aku
berdebar, “Pertanyaan macam apa kali ini yang akan ia tujukan.” Dia berhasil
membukakan sisi lain dunia yang belum pernah aku sentuh sebelumnya. Dan aku
belajar banyak darinya.
Tak
hanya terkagum dengan cara dia berpikir, aku juga sangat mengaguminya
memperlakukan seseorang. Dia hampir selalu bisa menempatkan sesuatu pada
tempatnya. Aku sangat terkesan bagaimana ia memperlakukan aku. Dan tanpa terasa aku mulai resah bila tak bersua
dengannya. Ya,resah yang dialami hampir setiap wanita ketika mereka tak bertemu
dengan sosok yang membuat mereka tersenyum bak orang gila.
-----------------------**-------------------------
“Hei, kamu,suka ngopi disini juga ya?” ia
mematung dengan senyum dan secangkir kopi ditangannya.
Ia
membuyarkan lamunanku. Tanpa di komando, ia langsung duduk di bangku sebelahku.
Kami bercerita kesana kemari. Dengan bahasan yang ringan dan santai. Lama tak
bertemu nampaknya membuat kami rindu untuk mengkaji sesuatu. Namun tiba-tiba
aku tercekat ketika tanpa sengaja aku melihat sebuah cincin dengan warna silver
melingkar di jari manisnya. Mendadak hati menjadi galau. Perlahan-lahan aku
mulai mengatur ritme perasaanku yang tak menentu. Dan akhirnya aku berhasil
berlaku seolah tak pernah ada apa-apa, aku masih mencoba menikmati obrolan kami
dengan secangkir kopi di bawah langit senja kala itu. Walau aku tau pikiranku
telah melayang-layang ke negeri awan.
Tahun
memang berganti,ia sekalipun tak pernah terganti, meski mungkin ia telah termiliki.
Sukoharjo,29 Januari 2012