Minggu, 29 Juli 2012

“Hei,Kamu......”


“Hei,kamu. Siapa yang suruh lepas topi anyaman daun nangka nya??”
Itulah kalimat sekaligus sentakan pertama yang ia tujukan langsung untukku pertama kali. Dongkol dan serasa ingin mencubit lengannya kala itu. Tapi aku hanyalah seorang peserta Orientasi Mahasiswa Baru yang tak punya kuasa apapun. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah berkeyakinan aku akan meng-skak matt nya nanti.
Perasaan ingin menjatuhkannya pun semakin menggebu-gebu. Kami terlibat persilatan argumentasi. Perdebatan yang sangat sengit. Berhasil menyudutkannya di dalam forum dan membuatnya “melarikan” isu dari perdebatan kala itu cukup membuatku bisa tidur agak nyenyak malam itu.
-----------------------**-------------------------
“Hei,kamu disini ya?”
Kalimat lembutnya membuat aku tersentak. Dan aku hanya bisa terdiam menyambut uluran tangannya. Kala itu dia nampak berbeda dengan saat pertama kali kami bertemu. Halus , lembut dan sangat ramah.
Mulai saat itu kami sering terlibat diskusi hangat namun cukup menguras otak. Dari hal paling sepele dalam kehidupan sampai hal yang paling kompleks. Dia sering berhasil membolak-balikkan pemikiran ku. Dan dia selalu berhasil membuat aku berdebar, “Pertanyaan macam apa kali ini yang akan ia tujukan.” Dia berhasil membukakan sisi lain dunia yang belum pernah aku sentuh sebelumnya. Dan aku belajar banyak darinya.
Tak hanya terkagum dengan cara dia berpikir, aku juga sangat mengaguminya memperlakukan seseorang. Dia hampir selalu bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Aku sangat terkesan bagaimana ia memperlakukan aku. Dan  tanpa terasa aku mulai resah bila tak bersua dengannya. Ya,resah yang dialami hampir setiap wanita ketika mereka tak bertemu dengan sosok yang membuat mereka tersenyum bak orang gila.
-----------------------**-------------------------
 “Hei, kamu,suka ngopi disini juga ya?” ia mematung dengan senyum dan secangkir kopi ditangannya.
Ia membuyarkan lamunanku. Tanpa di komando, ia langsung duduk di bangku sebelahku. Kami bercerita kesana kemari. Dengan bahasan yang ringan dan santai. Lama tak bertemu nampaknya membuat kami rindu untuk mengkaji sesuatu. Namun tiba-tiba aku tercekat ketika tanpa sengaja aku melihat sebuah cincin dengan warna silver melingkar di jari manisnya. Mendadak hati menjadi galau. Perlahan-lahan aku mulai mengatur ritme perasaanku yang tak menentu. Dan akhirnya aku berhasil berlaku seolah tak pernah ada apa-apa, aku masih mencoba menikmati obrolan kami dengan secangkir kopi di bawah langit senja kala itu. Walau aku tau pikiranku telah melayang-layang ke negeri awan.
Tahun memang berganti,ia sekalipun tak pernah terganti, meski mungkin ia telah termiliki.

Sukoharjo,29 Januari 2012

0 komentar:

Posting Komentar