Sabtu, 11 Agustus 2012

Setengah Salak


Setengah Salak
Mata Banyu tak henti-hentinya menatap kearah luar jendela perpustakaan. Hujan belum reda, hatinya berkecamuk. Duduknya mulai tak tenang, sebentar-sebentar ia menyeka air mata yang nyaris keluar dari pelupuk mata minusnya. Ia lanjutkan bacaan yang sedari tadi digenggamnya, namun hatinya tetap gelisah, tak tenang.
***
“Banyu, ada tamu buat kamu. Bergegaslah ke ruang kesiswaan.” Seru ustadz Malik seraya menepuk pundak Banyu.
“Baik Tadz.” Kali ini matanya lebih bersinar dan berkilat-kilat terlihat jelas dari balik kacamata minusnya. Dengan semangat ia melangkahkan kakinya ke ruang kesiswaan.
***
Teras ruang kesiswaan nampak lengang, maklum sehabis sholat dzuhur.
Dilihatnya seorang wanita paruh baya dengan kerudung coklat tanah memandangnya penuh keteduhan. Dihampirinya wanita itu, dan dipeluknya erat-erat.
“Buk, Banyu kangen...” kata-katanya tercekat dan kali ini ia tak lagi bisa menahan air mata yang sedari tadi di tahannya rapat-rapat.
Wanita itu mengelus kepala anak laki-lakinya, dengan lembut.
Satu setengah jam berlalu, rasanya tak pernah cukup untuk Banyu melepas rindu dengan Ibunya.
“Nak, Ibu pulang dulu ya. Jangan nakal. Belajar sungguh-sungguh. Oh iya, jangan lupa dibagi oleh-oleh ini sama kawan-kawan kau.”
Banyu hanya mengangguk. Diciumnya tangan wanita itu, dan ia terus memandanginya sampai siluetnya benar-benar hilang.
Ditentengnya keresek hitam itu menuju asrama. Sepi, ya anak-anak pondok lainnya mungkin sedang berada di perpustakaan atau ruang kegiatan santri. Dibuka nya bungkusan itu dengan berdebar, dikeluarkannya buah buah salak itu dari kantong. Ya dihitung. Sudah menjadi tradisi di asrama ini. Untuk saling berbagi. Beberapa hari yang lalu Anto mendapat kunjungan dari orang tuanya, dan ia dibawakan manisan mangga yang bisa dikatakan cukup berlimpah untuk kami ber enam puluh dikamar ini.
Dihitung nya berkali-kali butiran-butiran salak yan dibawakan Ibunya tadi. Namun tak ada yag berubah, jumlah nya tetap 38. Padahal jumlah penghuni kamar ini ada 60santri dan setiap santri harus mendapat bagian. Bagaimana mungkin 38 Salak untuk 60 santri. Hatinya galau. Mungkin kondisi perekonomian dirumah sedang tidak bagus, makanya Ibu hanya membawakan sekedarnya.
Tekadnya sudah bulat di baginya tiap butiran salak itu menjadi dua bagian.  Disisakannya 8 butir untuk disimpannya. Dengan segera ia masukkan salak-salak tadi kedalam kantongnya, takut ketahuan santri-santri yang lain.
***
Banyu masih asik dengan kain pelnya ketika teman-temannya berhamburan keluar kamar untuk shalat ashar berjamaah di masjid. Memang ada pengecualian untuk santri yang mendapat jadwal piket mengepel kamar, boleh tidak shalat ashar berjamaah dimasjid.
Setelah dirasa keadaan sudah aman, di kemasi lah peralatan pelnya. Segera ia berlari menuju lemari tempat ia menyimpan salak-salaknya tadi. Setiap satu lemari santri ditaruhnya setengah buah salak, begitulah sampai setiap atas lemari santri terdapat buah salak, yang tentunya hanya setengah. Oh iya, tak lupa ditaruh pula salak yang tinggal separuh itu diatas lemarinya, yang pastinya agar tidak ketahuan oleh santri yang lain.
***
“Wah , lihat teman. Aku mendapat salak. Siapa ini yang hais dapat kiriman?? Tapi tunggu... siapa yang makan salak ku. Kenapa tinggal setengah?” Seru Fadli kepada teman-temannya.
“Fadli coba kau tengok punya aku, rupanya punyaku juga ada yang makan ini. Dan Cuma disisakan setengah. Ih menyebalkan sekali.” Timpal Ismail.
Santri-santri lain pun menghampiri lemari masing-masing.
“Hai, rupanya bukan hanya milik kalian berdua  saja. Punya aku juga.”
Santri-santri lain juga saling bersahut-sahutan membicarakan salak yang tinggal setengah.
“Sudahlah ya akhi, kita nikmati saja rezeki sore ini. Tak usah kau ributkan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu diributkan. By the way, buat siapapun yang sudah berbagi kiriman ini kepada kami, saya ucapkan terimakasih banyak ya.” Seloroh Fuad si perut tambun dengan mulut mengunyah salak.
Suara dengungan santri-santri lain pun masih terdengar. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas ini kejadian pertama sejak mereka menjadi santri di pondok ini.
“Banyu, punya kau juga setengah ya.” Andi teman yang memiliki lemari sebelah Banyu bertanya.
Banyu hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kenapa Cuma setengah ya Banyu. Pelit kali. Dih, menyedihkan sekali anak yang memberi ini.” Kini Andi sedikit terkekeh.
Banyu hanya tersenyum kecut.
Ya Tuhan. Banyu hanya bisa membatin.

0 komentar:

Posting Komentar