Setengah Salak
Mata
Banyu tak henti-hentinya menatap kearah luar jendela perpustakaan. Hujan belum
reda, hatinya berkecamuk. Duduknya mulai tak tenang, sebentar-sebentar ia
menyeka air mata yang nyaris keluar dari pelupuk mata minusnya. Ia lanjutkan
bacaan yang sedari tadi digenggamnya, namun hatinya tetap gelisah, tak tenang.
***
“Banyu,
ada tamu buat kamu. Bergegaslah ke ruang kesiswaan.” Seru ustadz Malik seraya
menepuk pundak Banyu.
“Baik
Tadz.” Kali ini matanya lebih bersinar dan berkilat-kilat terlihat jelas dari
balik kacamata minusnya. Dengan semangat ia melangkahkan kakinya ke ruang
kesiswaan.
***
Teras
ruang kesiswaan nampak lengang, maklum sehabis sholat dzuhur.
Dilihatnya
seorang wanita paruh baya dengan kerudung coklat tanah memandangnya penuh
keteduhan. Dihampirinya wanita itu, dan dipeluknya erat-erat.
“Buk,
Banyu kangen...” kata-katanya tercekat dan kali ini ia tak lagi bisa menahan
air mata yang sedari tadi di tahannya rapat-rapat.
Wanita
itu mengelus kepala anak laki-lakinya, dengan lembut.
Satu
setengah jam berlalu, rasanya tak pernah cukup untuk Banyu melepas rindu dengan
Ibunya.
“Nak,
Ibu pulang dulu ya. Jangan nakal. Belajar sungguh-sungguh. Oh iya, jangan lupa
dibagi oleh-oleh ini sama kawan-kawan kau.”
Banyu
hanya mengangguk. Diciumnya tangan wanita itu, dan ia terus memandanginya
sampai siluetnya benar-benar hilang.
Ditentengnya
keresek hitam itu menuju asrama. Sepi, ya anak-anak pondok lainnya mungkin
sedang berada di perpustakaan atau ruang kegiatan santri. Dibuka nya bungkusan
itu dengan berdebar, dikeluarkannya buah buah salak itu dari kantong. Ya
dihitung. Sudah menjadi tradisi di asrama ini. Untuk saling berbagi. Beberapa
hari yang lalu Anto mendapat kunjungan dari orang tuanya, dan ia dibawakan
manisan mangga yang bisa dikatakan cukup berlimpah untuk kami ber enam puluh
dikamar ini.
Dihitung
nya berkali-kali butiran-butiran salak yan dibawakan Ibunya tadi. Namun tak ada
yag berubah, jumlah nya tetap 38. Padahal jumlah penghuni kamar ini ada
60santri dan setiap santri harus mendapat bagian. Bagaimana mungkin 38 Salak
untuk 60 santri. Hatinya galau. Mungkin kondisi perekonomian dirumah sedang
tidak bagus, makanya Ibu hanya membawakan sekedarnya.
Tekadnya
sudah bulat di baginya tiap butiran salak itu menjadi dua bagian.
Disisakannya 8 butir untuk disimpannya. Dengan segera ia masukkan
salak-salak tadi kedalam kantongnya, takut ketahuan santri-santri yang lain.
***
Banyu
masih asik dengan kain pelnya ketika teman-temannya berhamburan keluar kamar
untuk shalat ashar berjamaah di masjid. Memang ada pengecualian untuk santri
yang mendapat jadwal piket mengepel kamar, boleh tidak shalat ashar berjamaah
dimasjid.
Setelah
dirasa keadaan sudah aman, di kemasi lah peralatan pelnya. Segera ia berlari
menuju lemari tempat ia menyimpan salak-salaknya tadi. Setiap satu lemari
santri ditaruhnya setengah buah salak, begitulah sampai setiap atas lemari
santri terdapat buah salak, yang tentunya hanya setengah. Oh iya, tak lupa ditaruh
pula salak yang tinggal separuh itu diatas lemarinya, yang pastinya agar tidak
ketahuan oleh santri yang lain.
***
“Wah ,
lihat teman. Aku mendapat salak. Siapa ini yang hais dapat kiriman?? Tapi
tunggu... siapa yang makan salak ku. Kenapa tinggal setengah?” Seru Fadli
kepada teman-temannya.
“Fadli
coba kau tengok punya aku, rupanya punyaku juga ada yang makan ini. Dan Cuma
disisakan setengah. Ih menyebalkan sekali.” Timpal Ismail.
Santri-santri
lain pun menghampiri lemari masing-masing.
“Hai,
rupanya bukan hanya milik kalian berdua saja. Punya aku juga.”
Santri-santri
lain juga saling bersahut-sahutan membicarakan salak yang tinggal setengah.
“Sudahlah
ya akhi, kita nikmati saja rezeki sore ini. Tak usah kau ributkan hal-hal yang sesungguhnya
tidak perlu diributkan. By the way, buat siapapun yang sudah berbagi kiriman
ini kepada kami, saya ucapkan terimakasih banyak ya.” Seloroh Fuad si perut
tambun dengan mulut mengunyah salak.
Suara
dengungan santri-santri lain pun masih terdengar. Entah apa yang mereka
bicarakan. Yang jelas ini kejadian pertama sejak mereka menjadi santri di
pondok ini.
“Banyu,
punya kau juga setengah ya.” Andi teman yang memiliki lemari sebelah Banyu
bertanya.
Banyu
hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kenapa
Cuma setengah ya Banyu. Pelit kali. Dih, menyedihkan sekali anak yang memberi
ini.” Kini Andi sedikit terkekeh.
Banyu
hanya tersenyum kecut.
Ya Tuhan. Banyu hanya bisa
membatin.
0 komentar:
Posting Komentar