Habis menutup
Quran,saya kembali menarik selimut saya. Ngantuk?Ya memang.Itulah kebiasaan
yang sering saya lakukan selama ramadhan akhir-akhir ini.Saya bolak-balik badan
saya.Biar nggak gosong?bukan lah,hehehe. Kali ini saya ngantuk tapi susah
tidur(aneh memang).
Dari kamar saya
sayup-sayup terdengar segerombol anak kecil (kisaran TK sampai SD kalik)
memanggil nama cucu tetangga saya. Saya jadi inget,Ramadhan-Ramadhan saya waktu
SD dulu. Hampir di setiap hari selepas sholat subuh, sahabat-sahabat kecil saya
memanggil-manggil nama saya di balik gerbang besi rumah saya. Kadang saya
merasa semangat sekali menghampiri mereka, tapi kadang malasnya minta ampun
karena di dera kantuk yang teramat sangat. Tapi yang saya herankan sampai saat
ini, seberapapun malas nya saya selalu saya menghampiri mereka. Begitu banyak
cara untuk mengakali rasa kantuk,entah itu gosok gigi,cuci muka,atau
mencubit-cubit badan sendiri. Dan yang membuat rasa kantuk itu menghilang sama
sekali adalah saat saya tertawa dengan mereka. Tawa lepas sekelompok anak-anak.
Kami berjalan-jalan
tak jarang pula bersepeda,meskipun tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami.
Ataupun sekedar bermain-main dengan firework,gasing dengan api
warna-warna-warni,mercon pletok-petok atau bahkan menyulut mercon tikus atau
tawon/kupu-kupu (ini yang paling favorit). Dalam permainan ini Mercon di
letakan di antara kami yang teersebar di arah timur,tenggara,selatan,barat
daya,barat,barat laut,utara,timur laut. Lalu salah satu dari kami(tapi saya
nggak masuk dalam hitungan) menyulut Sumbu dari mercon tersebut dengan api yang
dihasilkan dari korek api(biasanya Palm tree). Saat sumbu sedikit demi sedikit
terbakaar oleh api,kami mengambil ancang-ancang untuk berlari,setelah sumbu habis
dia(si mercon) akan berlari ke segala arah yang dia mau. Dan disitulah letak ke
“seru” an dari permainan ini. Salah satu dari kami yang arahnya di tuju oleh
simercon dialah yang harus berlari paling kencang agar tidak ter ‘tangkap’ oleh
nya. Kami yang kurang beruntung karena tidak di hampiri simercon harus berlari
pula,takut simercon berbaik ara dan mengejar salah satu dari kami. Kami terus
berlari dengan iringan tawa dan rasa cemas sampai si mercon itu tak berdaya .
kami tertawa puas,dan selalu mengulangi ini lagi dan lagi hingga persedian
mercon habis.
Oh ya,permainan ini
memang bukan tanpa resiko. Kami harus bisa berlari kencang kalau tidak bisa
bahaya bila tertangkap simercon. Pernah ada kejadian ketika saya kurang
konsentrasi, si mercon terbang melawati kaki saya. Dan tahukah anda apa yang
terjadi? Yak celana bagian bawah saya berlubang. Untung bukan dengkul saya yang
jadi sasaran. Selain itu kaki lecet pun tak bisa dihindarkan dari permainan
ini,karena terjatuh . Ada juga faktor internal dari diri saya ,yang hampir
selalu sembunyi-sembunyi dari bapak saat bermain mercon. Ya,bapak tidak suka
saya bermain-main dengan hal-hal seperti ini. Saya pun tidak pernah di beri
uang untuk membeli benda ini,bahkan meskipun saya meminta dengan
merengek-rengek (Padahal saya sangat ingin,ingin sekali). Sedangkan penghasilan
saya waktu itu ya Cuma dari bapak. Inilah alasan mengapa saya tidak pernah
membeli mercon.
Saya selalu ingat
betapa nakal nya saya dan sahabat-sahabat saya. Kejadian ini berawal di hari
sabtu ketika kami duduk santai di KB-nan (markas kebanggan ). Sesosok wanita
paruh baya menghampiri kami. Di lihat dari penampilannya sih biasa-biasa saja.
Tapi apa yang dia lakukan sungguhlah di luar dugaan,dia menjabat tangan kami
satu persatu(padahal tak ada satupun dari kami yang merasa kenal dengan
mereka). Tapi ada teman kami yang tidak mau menjabat tangan wanita itu(mungkin
karena takut,entah apa yang dia takutkan),dan sangat mengejutkan wanita itu
mengumpat teman kami yang tidak mau bersalaman dengannya. Malamnya saya
menceritakan kejadian itu pada ibu saya, Ibuk bilang ternyata dia itu nggak
genep(tau kan maksud saya?). Tak lupa saya Share informasi itu ke teman-teman
saya. Dan,selang beberapa hari kemudian, wanita itu datang lagi dan dia datang
dengan wajah yang tidak ramah, kita sebagai anak-anak kecil yang udelnya belum
bolong menggoda-goda wanita itu sampai dia marah dan mengejar-ngejar kami.
Puas. Itu yang kurang lebih kami rasakan. Selalu dan selalu,hari demi hari
setiap dia datang kami selalu menggoda lalu berlari,bersembunyi. Dari hari
kehari kami semakin cerdik,kami berbekal senjata untuk berjaga-jaga jika salah
satu dari kami tertangkap. Jangan kalian pikir senjata yang kami bawa itu
semacam pistol,parang,pisau,dkk. Akan tetapi sanjata yang kami bawa adalah Sapu
ijuk,Sapu lidi,cikrak,kemoceng,dsb. Sampai akhirnya wanita itu tak kunjung
datang lagi,padahal kami selalu menunggu dan menunggu. Sampai akhirnya saya
sadar,betapa nakal nya saya,betapa jahatnya saya,maafkan saya Tuhan. Saya
menyesal.
Pernah juga waktu kita
maen blandaran,plek,atau apalah namanya (pokoknya permainan dengan gambar yang
berukuran persegi panjang dan berukuran kecil). Pada waktu itu saya ingat lagi
gencar-gencarnya razia judi(mungkin karena bertepatan bulan ramadhan). Walaupun
saya nggak pernah menganggap itu judi,toh Cuma pake gambar nggak pake duit juga
(hehehehe). Nah ketika lagi asyik-asyik nya maen,tiba-tiba ada mobil bak polisi
dengan satu polisi didalamnya. Kami langsung panik,kalang kabut, lalu kami
meraup gambar-gambar yang ada didepan kami dengan menaruh nya di bawah
paha,pantat,dan ada pula yang kami masukkan kedalam saku celana. Sepertinya
polisi itu menyadari kepanikan kami,mungkin dengan meihat ceceran gambar yang
terjatuh di tanah,polisi itu mengerti apa yang kami sembunyikan. Kami merasa
lega ketika polisi yang cengar-cengir itu melewati kami,ternyata dia hendak
mengunjungi rumah kawannya yang terletak di belakang markas kami. Menyadari hal
itu,kami hanya tersenyum kecut,tertawa menyadari ke GR an kami. Dasar.
Itulah sedikit dari
banyaknya kenangan masa kecil kami.This is the thing that I miss the most. Masa
kecil yang sangatlah indah,persahabatan saya dengan mereka.My treasure that I
no need to find.
Now,everything already
change.We grow up, We change with each other world. But our childhood memory
never changes. Thanks for the biggest ship,the biggest ship called friendship.
Dedicated to all my
beloved Childhood friend: Annis,Desta,Aziz,Sifa,Sela.