Minggu, 14 Agustus 2011

the biggest ship called friendship

Habis menutup Quran,saya kembali menarik selimut saya. Ngantuk?Ya memang.Itulah kebiasaan yang sering saya lakukan selama ramadhan akhir-akhir ini.Saya bolak-balik badan saya.Biar nggak gosong?bukan lah,hehehe. Kali ini saya ngantuk tapi susah tidur(aneh memang).
Dari kamar saya sayup-sayup terdengar segerombol anak kecil (kisaran TK sampai SD kalik) memanggil nama cucu tetangga saya. Saya jadi inget,Ramadhan-Ramadhan saya waktu SD dulu. Hampir di setiap hari selepas sholat subuh, sahabat-sahabat kecil saya memanggil-manggil nama saya di balik gerbang besi rumah saya. Kadang saya merasa semangat sekali menghampiri mereka, tapi kadang malasnya minta ampun karena di dera kantuk yang teramat sangat. Tapi yang saya herankan sampai saat ini, seberapapun malas nya saya selalu saya menghampiri mereka. Begitu banyak cara untuk mengakali rasa kantuk,entah itu gosok gigi,cuci muka,atau mencubit-cubit badan sendiri. Dan yang membuat rasa kantuk itu menghilang sama sekali adalah saat saya tertawa dengan mereka. Tawa lepas sekelompok anak-anak.
Kami berjalan-jalan tak jarang pula bersepeda,meskipun tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Ataupun sekedar bermain-main dengan firework,gasing dengan api warna-warna-warni,mercon pletok-petok atau bahkan menyulut mercon tikus atau tawon/kupu-kupu (ini yang paling favorit). Dalam permainan ini Mercon di letakan di antara kami yang teersebar di arah timur,tenggara,selatan,barat daya,barat,barat laut,utara,timur laut. Lalu salah satu dari kami(tapi saya nggak masuk dalam hitungan) menyulut Sumbu dari mercon tersebut dengan api yang dihasilkan dari korek api(biasanya Palm tree). Saat sumbu sedikit demi sedikit terbakaar oleh api,kami mengambil ancang-ancang untuk berlari,setelah sumbu habis dia(si mercon) akan berlari ke segala arah yang dia mau. Dan disitulah letak ke “seru” an dari permainan ini. Salah satu dari kami yang arahnya di tuju oleh simercon dialah yang harus berlari paling kencang agar tidak ter ‘tangkap’ oleh nya. Kami yang kurang beruntung karena tidak di hampiri simercon harus berlari pula,takut simercon berbaik ara dan mengejar salah satu dari kami. Kami terus berlari dengan iringan tawa dan rasa cemas sampai si mercon itu tak berdaya . kami tertawa puas,dan selalu mengulangi ini lagi dan lagi hingga persedian mercon habis.
Oh ya,permainan ini memang bukan tanpa resiko. Kami harus bisa berlari kencang kalau tidak bisa bahaya bila tertangkap simercon. Pernah ada kejadian ketika saya kurang konsentrasi, si mercon terbang melawati kaki saya. Dan tahukah anda apa yang terjadi? Yak celana bagian bawah saya berlubang. Untung bukan dengkul saya yang jadi sasaran. Selain itu kaki lecet pun tak bisa dihindarkan dari permainan ini,karena terjatuh . Ada juga faktor internal dari diri saya ,yang hampir selalu sembunyi-sembunyi dari bapak saat bermain mercon. Ya,bapak tidak suka saya bermain-main dengan hal-hal seperti ini. Saya pun tidak pernah di beri uang untuk membeli benda ini,bahkan meskipun saya meminta dengan merengek-rengek (Padahal saya sangat ingin,ingin sekali). Sedangkan penghasilan saya waktu itu ya Cuma dari bapak. Inilah alasan mengapa saya tidak pernah membeli mercon.
Saya selalu ingat betapa nakal nya saya dan sahabat-sahabat saya. Kejadian ini berawal di hari sabtu ketika kami duduk santai di KB-nan (markas kebanggan ). Sesosok wanita paruh baya menghampiri kami. Di lihat dari penampilannya sih biasa-biasa saja. Tapi apa yang dia lakukan sungguhlah di luar dugaan,dia menjabat tangan kami satu persatu(padahal tak ada satupun dari kami yang merasa kenal dengan mereka). Tapi ada teman kami yang tidak mau menjabat tangan wanita itu(mungkin karena takut,entah apa yang dia takutkan),dan sangat mengejutkan wanita itu mengumpat teman kami yang tidak mau bersalaman dengannya. Malamnya saya menceritakan kejadian itu pada ibu saya, Ibuk bilang ternyata dia itu nggak genep(tau kan maksud saya?). Tak lupa saya Share informasi itu ke teman-teman saya. Dan,selang beberapa hari kemudian, wanita itu datang lagi dan dia datang dengan wajah yang tidak ramah, kita sebagai anak-anak kecil yang udelnya belum bolong menggoda-goda wanita itu sampai dia marah dan mengejar-ngejar kami. Puas. Itu yang kurang lebih kami rasakan. Selalu dan selalu,hari demi hari setiap dia datang kami selalu menggoda lalu berlari,bersembunyi. Dari hari kehari kami semakin cerdik,kami berbekal senjata untuk berjaga-jaga jika salah satu dari kami tertangkap. Jangan kalian pikir senjata yang kami bawa itu semacam pistol,parang,pisau,dkk. Akan tetapi sanjata yang kami bawa adalah Sapu ijuk,Sapu lidi,cikrak,kemoceng,dsb. Sampai akhirnya wanita itu tak kunjung datang lagi,padahal kami selalu menunggu dan menunggu. Sampai akhirnya saya sadar,betapa nakal nya saya,betapa jahatnya saya,maafkan saya Tuhan. Saya menyesal.

Pernah juga waktu kita maen blandaran,plek,atau apalah namanya (pokoknya permainan dengan gambar yang berukuran persegi panjang dan berukuran kecil). Pada waktu itu saya ingat lagi gencar-gencarnya razia judi(mungkin karena bertepatan bulan ramadhan). Walaupun saya nggak pernah menganggap itu judi,toh Cuma pake gambar nggak pake duit juga (hehehehe). Nah ketika lagi asyik-asyik nya maen,tiba-tiba ada mobil bak polisi dengan satu polisi didalamnya. Kami langsung panik,kalang kabut, lalu kami meraup gambar-gambar yang ada didepan kami dengan menaruh nya di bawah paha,pantat,dan ada pula yang kami masukkan kedalam saku celana. Sepertinya polisi itu menyadari kepanikan kami,mungkin dengan meihat ceceran gambar yang terjatuh di tanah,polisi itu mengerti apa yang kami sembunyikan. Kami merasa lega ketika polisi yang cengar-cengir itu melewati kami,ternyata dia hendak mengunjungi rumah kawannya yang terletak di belakang markas kami. Menyadari hal itu,kami hanya tersenyum kecut,tertawa menyadari ke GR an kami. Dasar.
Itulah sedikit dari banyaknya kenangan masa kecil kami.This is the thing that I miss the most. Masa kecil yang sangatlah indah,persahabatan saya dengan mereka.My treasure that I no need to find.
Now,everything already change.We grow up, We change with each other world. But our childhood memory never changes. Thanks for the biggest ship,the biggest ship called friendship.
Dedicated to all my beloved Childhood friend: Annis,Desta,Aziz,Sifa,Sela.

0 komentar:

Posting Komentar