Langit
masih menitikkan tetes demi tetes air hujan, meski tak serapat beberapa jam
yang lalu. Ku dorong daun jendela, kurasakan hembusan angin segar
bercampur aroma tanah sehabis hujan. Langit memang belum gelap namun hawa
dingin semakin lama semakin menusuk tulang. Kurapatkan tubuhku dengan tumpukan
bantal di dipan panjang dari kayu jati ini.
Kupasang
earphone di kedua kuping ku,kudengar suara Sabrina mengalun lembut dengan poker face nya, kuresapi atmosfer
kota ini, kota yang membuatku merasa terasing. Sejenak aku merasakan kenyaman
disini, di tempat ini.
-**-
Kulirik
jam yang melingkar di tangan kiriku, masih pukul 09.00 WITA. Wangi-wangi
memang berbeda. Aku merasakan keramah tamahan disini. Dari arah kejauhan,
kulihat taksi yang menuju ke arahku, hingga akhirnya berhenti di depanku.
“Taksi
Non?”,Supir taksi itu menawarkan taksi nya dengan penuh keramahan.
Aku
pun hanya tersenyum dan masuk ke dalam taksi berwarna biru itu.
“Hendak
pergi kemana Non?”
“Bawa
saya keliling Wangi-wangi pak.”
Supir
taksi setengah baya ini seperti bukan asing bagiku. Perawakannya tidak begitu
tinggi,dengan ukuran tubuh nya pun tidak terlalu besar. Kulitnya sawo matang
dengan Logat jawa nya yang masih sangat kental meski memakai bahasa Indonesia
membuatku merasa nyaman menaiki taksinya. Ternyata jauh di sini masih
bisa aku temukan orang jawa.
Kami
terlibat pembicaraan santai, seperti layaknya teman lama. Di bercerita banyak
tentang kota ini. Dia begitu bersahabat.
-**-
Kamar
ini memang tak terlalu luas, namun bersih dan rapi, dan yang pasti pas dengan
kantong mahasiswa. Saat kubuka jendela birunya laut dengan riak-riak ombak terlihat
jelas. Hati ku mulai mengembang, senyum tipisku berubah ke senyuman lebar, es
yang membeku kini telah meleleh, terperangah keindahan surga duniawi.
-**-
Di
Hoga aku siap dengan perlengkapan selamku, bersama rombongan lain kami di beri
pengarahan singkat tentang selam menyelam.
Entah
dikedalaman berapa meter, aku melihat napoleon-napoleon dengan ukuran yang
cukup besar berlalu lalang, kelinci-kelinci laut pun tak mau kalah mereka
berenang kesana kemari.
Tak
cukup sampai disitu, kulihat deretan karang yang begitu indah, banyak ikan-ikan
kecil menyeruak dari tumpukan karang berwarna-warni ini. Mereka begitu lucu dan
menggemaskan.
Dan
kali ini, Kuda laut – kuda laut kerdil mendekati jemariku, kulihat mereka
dengan seksama,sepertinya aku pernah melihat ini sebelumnya. Ya, aku ingat.
Mereka adalah Mantaray. Mereka mengikuti ku, mereka berenang bersamaku.
“Olala,apa
lagi ini?” gumamku dalam hati. Kawanan barracuda
menyambutku di kedalaman laut, dan sekelompok giant trevaliies pun mengikutinya. Aku terhipnotis oleh pesonanya.
Aku mengikuti mereka, aku seperti anak kecil yang terlalu gembira mendapat
teman main baru. Ini seperti surga dunia yang selama ini aku rindukan.
Tapi
tiba-tiba kaki ku terasa perih. Dan seketika kulihat warna merah di sekitar
pergelangan kaki ku mulai larut dalam birunya air laut. Segera instruktur
selamku,mendekatiku. Membantuku kembali ke permukaan.
Dengan
cekatan ia mengobati lukaku. Hingga akhirnya dibalutlah kakiku dengan gulungan
perban yang tersimpan rapi dalam kotak p3k itu.
“It’s
okay, don’t worry too much.Ini ga papa kok.” Instruktur dengan wajah khas
Indonesia ini memulai percakapan.
“Thanks
Sir. Terima kasih banyak.”
Sang
Instruktur hanya tersenyum lebar sembari berlalu.
-**-
Aku
masih di Hoga ketika jam menunjukkan pukul 04.00 WITA. Pantainya masih
sepi,belum banyak orang disini, sesekali deburan ombak memecah keheningan
awal pagi ini.
“Kakak,
pasti nunggu lagi Sunrise ya?” anak
kecil hitam manis ini menyapa ku ramah. Tubuhnya yang langsing
mendekatiku,duduk di samping ku. Diantara butiran-butiran pasir pantai.
“Iya.”
Seulas senyum ku lemparkan padanya.
“Kata
orang-orang asing, tempat ini merupakan salah satu tempat dengan panorama
sunset dan sunrise terbaik di dunia hlo.” Jelasnya tanpa ku pinta.
“Oh
ya?”
Ia
hanya mengangguk mantap. “Kaki kakak kena karang?”
Aku
hanya menjawabnya dengan senyuman simpul.
“Karang
disana memang indah, tapi kalau kakak tidak hati, bisalah kakak terluka.” Aku
mulai menyukai anak ini,entah mengapa dia begitu menarik.
“Oh
iya,Kakak sadar nggak? Indonesia kita ini kaya hlo. Semuanya ada di Indonesia. Dunia membutuhkan kita.”
“Indonesia
adalah Paru-paru dunia. Lihat saja luas hutan di Indonesia. Waktu isu global
warming menyeruak,ditambah banyaknya pembalakan liar di Indonesia.
Negara-negara lain berkoar-koar kan kak,memprotes ini dan itu. Mereka takut
mereka akan tenggelam. Lihat saja Belanda, bisa tenggelam paling cepat mereka.”
“Saat
aku baca buku-buku di sekolah, sumber daya alam Indonesia itu melimpah ruah.
Banyak negara-negara di dunia ini sebenarnya ngiler sama harta nya Indonesia. Mana mereka berani musuhin kita.
Karena faktanya mereka butuh kita,aku pikir mereka nggak akan bisa hidup tanpa
kita.”
Aku
yang sedari tadi menyimak hanya bisa terperangah dengan cara berpikirnya. Aku
terkesan dengan jalan pikirannya. Menajubkan.
“Ehh,,kok
kesannya sombong banget ya kak?heehe...” Kulihat deretan gigi putihnya saat ia
menyeringai lebar.
“Tapi
kak, kita dibutuhkan oleh dunia kak. Seharusnya kita yang pegang kendali ya
kan?”
Ya
memang seharusnya begitulah, kita yang memainkan peran,mengatur ritme
permainan. Menjadi subyek bukan selalu menjadi obyek. Karena kita dibutuhkan
dunia, kita memiliki bergain position. Andai saja.
Aku
hanya mengangguk. Kulihat ia terdiam menatap air laut yang mulai memerah.
Kemudian kita terhanyut dalam pesona sunrise di Hoga,Wakatobi.
-**-
“Kakak,
hari ini hari minggu. Ina masak Kasuami. Mau mencicip?”
“Kasuami?”
“Iya.
Terbuat dari singkong yang diparut, diperas airnya dan dikukus, dan dimakan
bersama ikan. Sedap kakak.” Katanya meyakinkan.
Ia
menggandeng tangan ku, menuntunku menuju rumah nya yang tak jauh dari
bibir pantai. Kulihat Ina nya telah menunggu di depan rumahnya yang tak
begitu besar, Ina nya pun menyambutku ramah.
Kucicipi
kue karasi yang disuguhkan Ina Iko. Ya anak lelaki kecil itu bernama Iko dan
Ina adalah sebutan untuk Ibu di daerah itu. Selain Kue Karasi, disuguhkan pula
Kasuami yang tadi dijanjikan Iko, ada juga masakan yang terbuat dari gurita.
Semua nya memang asing di lidah, tapi semua ini begitu lezat.Oh iya kasuami dan
kue karasi adalah makan khas didaerah Wakatobi.
“Tak
usah sungkan nona, Iko sering ajak kawannya kemari untuk sekedar makan masakan
Ina.” Seulas senyum mengembang di bibir Ina. Dengan keramahan nya, Ia terlihat
sangat cantik.
Iko,
lelaki kecil yang baru aku temui, belum banyak kata yang terucap, sudah
menganggap ku sebagai kawannya. Iko kecil,Iko yang mengagumkan.
Aku
mulai mencintai tempat ini, alam nya, lautnya, dan semua keramah tamahan di
tempat ini. Aku ingin tetap tinggal saja disini. Hidup disini,tumbuh
disini. Andai aku bisa. Aku akan.
-**-
Langit
berubah gelap, hujan pun nampaknya sudah lama reda. Sudah malam,jam 08.00 WIB.
Sudah 3 jam aku tertidur. Ingin rasanya aku kembali ke dalam mimpiku. Tapi ah,
apa ini kaki berbalut perban putih di pergelangan kaki,masih terasa perih,
sakit.
Sukoharjo, 16 Februari 2012
