Rabu, 22 Februari 2012

sejauh cinta dan waktobi

Langit masih menitikkan tetes demi tetes air hujan, meski tak serapat beberapa jam yang lalu.  Ku dorong daun jendela, kurasakan hembusan angin segar bercampur aroma tanah sehabis hujan. Langit memang belum gelap namun hawa dingin semakin lama semakin menusuk tulang. Kurapatkan tubuhku dengan tumpukan bantal di dipan panjang dari kayu jati ini.
Kupasang earphone di kedua kuping ku,kudengar suara Sabrina mengalun lembut dengan poker face  nya, kuresapi atmosfer kota ini, kota yang membuatku merasa terasing. Sejenak aku merasakan kenyaman disini, di tempat ini.
-**-
Kulirik jam  yang melingkar di tangan kiriku, masih pukul 09.00 WITA. Wangi-wangi memang berbeda. Aku merasakan keramah tamahan disini.  Dari arah kejauhan, kulihat  taksi yang menuju ke arahku, hingga akhirnya berhenti di depanku.
“Taksi Non?”,Supir taksi itu menawarkan taksi nya dengan penuh keramahan.
Aku pun hanya tersenyum dan masuk ke dalam taksi berwarna biru itu.
“Hendak pergi kemana Non?”
“Bawa saya keliling Wangi-wangi pak.”
Supir taksi setengah baya ini seperti bukan asing bagiku. Perawakannya tidak begitu tinggi,dengan ukuran tubuh nya pun tidak terlalu besar. Kulitnya sawo matang dengan Logat jawa nya yang masih sangat kental meski memakai bahasa Indonesia membuatku merasa nyaman menaiki taksinya.  Ternyata jauh di sini masih bisa aku temukan orang jawa.
Kami terlibat pembicaraan santai, seperti layaknya teman lama. Di bercerita banyak tentang kota ini. Dia begitu bersahabat.
-**-
Kamar ini memang tak terlalu luas, namun bersih dan rapi, dan yang pasti pas dengan kantong mahasiswa. Saat kubuka jendela birunya laut dengan riak-riak ombak terlihat jelas. Hati ku mulai mengembang, senyum tipisku berubah ke senyuman lebar, es yang membeku kini telah meleleh, terperangah keindahan surga duniawi.
-**-
Di Hoga aku siap dengan perlengkapan selamku, bersama rombongan lain kami di beri pengarahan singkat tentang selam menyelam.
Entah dikedalaman berapa meter, aku melihat napoleon-napoleon dengan ukuran yang cukup besar berlalu lalang, kelinci-kelinci laut pun tak mau kalah mereka berenang kesana kemari. 
Tak cukup sampai disitu, kulihat deretan karang yang begitu indah, banyak ikan-ikan kecil menyeruak dari tumpukan karang berwarna-warni ini. Mereka begitu lucu dan menggemaskan.
Dan kali ini, Kuda laut – kuda laut kerdil mendekati jemariku, kulihat mereka dengan seksama,sepertinya aku pernah melihat ini sebelumnya. Ya, aku ingat. Mereka adalah Mantaray. Mereka mengikuti ku, mereka berenang bersamaku.
“Olala,apa lagi ini?” gumamku dalam hati. Kawanan barracuda menyambutku di kedalaman laut, dan sekelompok giant trevaliies pun mengikutinya. Aku terhipnotis oleh pesonanya. Aku mengikuti mereka, aku seperti anak kecil yang terlalu gembira mendapat teman main baru. Ini seperti surga dunia yang selama ini aku rindukan.
Tapi tiba-tiba kaki ku terasa perih. Dan seketika kulihat warna merah di sekitar pergelangan kaki ku mulai larut dalam birunya air laut. Segera instruktur selamku,mendekatiku. Membantuku kembali ke permukaan.
Dengan cekatan ia mengobati lukaku. Hingga akhirnya dibalutlah kakiku dengan gulungan perban yang tersimpan rapi dalam kotak p3k itu.
“It’s okay, don’t worry too much.Ini ga papa kok.” Instruktur dengan wajah khas Indonesia ini memulai percakapan.
“Thanks Sir. Terima kasih banyak.”
Sang Instruktur hanya tersenyum lebar sembari berlalu.
-**-
 Aku masih di Hoga ketika jam menunjukkan pukul 04.00 WITA. Pantainya masih sepi,belum banyak orang disini, sesekali deburan ombak  memecah keheningan awal pagi ini.
“Kakak, pasti nunggu lagi Sunrise ya?” anak kecil hitam manis ini menyapa ku ramah. Tubuhnya yang langsing mendekatiku,duduk di samping ku. Diantara butiran-butiran pasir pantai.
“Iya.” Seulas senyum ku lemparkan padanya.
“Kata orang-orang asing, tempat ini merupakan salah satu tempat dengan panorama sunset dan sunrise terbaik di dunia hlo.” Jelasnya tanpa ku pinta.
“Oh ya?”
Ia hanya mengangguk mantap. “Kaki kakak kena karang?”
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman simpul.
“Karang disana memang indah, tapi kalau kakak tidak hati, bisalah kakak terluka.” Aku mulai menyukai anak ini,entah mengapa dia begitu menarik.
“Oh iya,Kakak sadar nggak? Indonesia kita ini kaya hlo. Semuanya ada di Indonesia. Dunia membutuhkan kita.”
“Indonesia adalah Paru-paru dunia. Lihat saja luas hutan di Indonesia. Waktu isu global warming menyeruak,ditambah banyaknya pembalakan liar di Indonesia. Negara-negara lain berkoar-koar kan kak,memprotes ini dan itu. Mereka takut mereka akan tenggelam. Lihat saja Belanda, bisa tenggelam paling cepat mereka.”
“Saat aku baca buku-buku di sekolah, sumber daya alam Indonesia itu melimpah ruah. Banyak negara-negara di dunia ini sebenarnya ngiler sama harta nya Indonesia. Mana mereka berani musuhin kita. Karena faktanya mereka butuh kita,aku pikir mereka nggak akan bisa hidup tanpa kita.”
Aku yang sedari tadi menyimak hanya bisa terperangah dengan cara berpikirnya. Aku terkesan dengan jalan pikirannya. Menajubkan.
“Ehh,,kok kesannya sombong banget ya kak?heehe...” Kulihat deretan gigi putihnya saat ia menyeringai lebar.
“Tapi kak, kita dibutuhkan oleh dunia kak. Seharusnya kita yang pegang kendali ya kan?”

Ya memang seharusnya begitulah, kita yang memainkan peran,mengatur ritme permainan. Menjadi subyek bukan selalu menjadi obyek. Karena kita dibutuhkan dunia, kita memiliki bergain position. Andai saja.
Aku hanya mengangguk. Kulihat ia terdiam menatap air laut yang mulai memerah. Kemudian kita terhanyut dalam pesona sunrise di Hoga,Wakatobi.
-**-
“Kakak, hari ini hari minggu. Ina masak Kasuami. Mau mencicip?”
“Kasuami?”
“Iya. Terbuat dari singkong yang diparut, diperas airnya dan dikukus, dan dimakan bersama ikan. Sedap kakak.” Katanya meyakinkan.
Ia menggandeng tangan ku, menuntunku menuju rumah nya yang tak jauh dari bibir  pantai. Kulihat Ina nya telah menunggu di depan rumahnya yang tak begitu besar, Ina nya pun menyambutku ramah.
Kucicipi kue karasi yang disuguhkan Ina Iko. Ya anak lelaki kecil itu bernama Iko dan Ina adalah sebutan untuk Ibu di daerah itu. Selain Kue Karasi, disuguhkan pula Kasuami yang tadi dijanjikan Iko, ada juga masakan yang terbuat dari gurita. Semua nya memang asing di lidah, tapi semua ini begitu lezat.Oh iya kasuami dan kue karasi adalah makan khas didaerah Wakatobi.
“Tak usah sungkan nona, Iko sering ajak kawannya kemari untuk sekedar makan masakan Ina.” Seulas senyum mengembang di bibir Ina. Dengan keramahan nya, Ia terlihat sangat cantik.
Iko, lelaki kecil yang baru aku temui, belum banyak kata yang terucap, sudah menganggap ku sebagai kawannya.  Iko kecil,Iko yang mengagumkan.
Aku mulai mencintai tempat ini, alam nya, lautnya, dan semua keramah tamahan di tempat ini.  Aku ingin tetap tinggal saja disini. Hidup disini,tumbuh disini. Andai aku bisa. Aku akan.
-**-
Langit berubah gelap, hujan pun nampaknya sudah lama reda. Sudah malam,jam 08.00 WIB. Sudah 3 jam aku tertidur. Ingin rasanya aku kembali ke dalam mimpiku. Tapi ah, apa ini kaki berbalut perban putih di pergelangan kaki,masih terasa perih, sakit.
                                                                          
                                                               Sukoharjo, 16 Februari 2012