'Aku pikir ketika berteman tidak lagi menguntungkan, lebih baik aku putuskan saja
hubungan pertemanan kami. Kamu tahu kan aku ini haus ilmu, aku butuh partner
diskusi, dari ekonomi, politik bahkan mungkin cinta. Mereka ga akan pernah
nyampe kalo aku ajak bahas begituan.
Dengan mereka aku ndak berkembang. Aku lebih senang berteman sama kamu,aku suka
cara berpikirmu.' Kira-kira begitulah kata teman satu fakultas yang baru aku
kenal belum lama ini.
Ya, kami memang sangat nyambung. Dari
masalah remeh temeh sampai masalah kompleks yang bahkan umur kami belum pantas
untuk membahasnya. Tapi kerongkonganku seperti tercekat, ketika aku mendengar
ucapannya barusan. Aku baru saja menemukan teman yang aku anggap baik, teman
yang aku anggap sama seperti 'sahabat' atau entahlah namanya. Aku merasa aku
satu frekuensi dengannya, jadi kemanapun alur pembicaraan kami bergulir, kami
hampir selalu selaras. Walopun meskipun aku lebih suka mendominasi karena
faktor usia ku yang lebih tua.
Yang mengusik pikiranku saat ini adalah
ketika suatu saat nanti aku tak bisa memenuhi apa yang bisa dia ambil dari
sebuah pertemanan kami, apakah dia juga akan meninggalkan ku. Sama seperti
teman-teman yang ia maksud? Mungkin nasib serupa juga akan menimpaku. Dan aku
pun hanya bisa tersenyum kecut membayangkan hal itu.
******
Aku merapatkan punggungku pada sandaran
kursi empuk depan layar komputer layar datar ini. Aku melirik smartphone ku,
tanganku meraihnya dengan sigap. Bunyi cetak cetik mulai terdengar,sesaat aku
melihat foto nya dengan selembar senyum manis pada barisan kontak pada aplikasi
instant messaging ku. Pikiran ku
menerawang, mengingat ucapannya tempo hari. Jika memang begitu lantas apakah
hubungan pertemanan itu sama seperti kita berdagang? Ketika itu benar
menguntungkan kita mengambilnya, ketika tidak ,tinggalkan.
Oke aku mulai terima, mengingat sifat manusia
tidak ada yang mau rugi. Tapi? Apakah iya pertemanan hanya serendah, kamu bisa
beri aku apa kalo aku mau jadi temanmu? Isshhh.. Nampaknya aku belum
benar-benar bisa terima dengan hal ini.
Aku tak pernah menganggap diriku paling
benar dalam segala hal termasuk hal ini. Tapi izinkanlah aku mereka ulang,
bagaimana aku bisa membentuk pertemanan.
Pada awalnya,dalam berteman aku tak pernah
berpikir aku akan dapat apa dari calon teman ku ini, ihhh aku ini mau temenan
bukan mau jualan. Bahkan aku selalu setuju sama penggalan dalam lagu Sheila on
7, kalo arti teman lebih dari sekedar materi. Kalo kita tak temukan teman yang
bisa memenuhi kebutuhan kita, apa yang
kita inginkan,pemenuhan atas ‘materi’ yang apabila kita tidak berteman kita
harus mengeluarkan cost untuk
mendapatkannya, bukankah mereka bisa menjadi best supporter dalam hidup kita.
Yup, supporter untuk usaha pencapaian pemenuhan kebutuhan kita. Jangan pernah
meremehkan, peran supporter. Dia bisa memberikan tambahan daya lebih dari
beribu-ribu kilo watt bahkan ketika kita dalam titik terbawah, kita bisa
melesat ke puncak kurva. Bukan begitu?
Buat saya teman baik atau sahabat atau
apalah kalian menyebutkan, selalu bisa
menjadi rumah buat kita. Tempat untuk pulang, tempat bernaung, tempat
berlindung sekalipun. Dimana kita selalu rindu, ketika kita telah berjalan jauh
berkilo-kilometer. Tempat yang selalu bisa membuat kita merasa rindu ingin
segera kembali, tempat yang bisa membuat kita terlelap dengan nyaman karena
buaiannya, tempat yang selalu bisa menenangkan saat tangis kita membuncah.
Walaupun teman-teman terbaik saya belum
bisa banyak menyembuhkan dahaga keilmuan saya, tapi setidaknya mereka selalu berada
dalam garda terdepan untuk menjadi penyemangat saya, mereka selalu siap
mengembangkan layar semangat saya. Kapanpun saya butuh. Mereka mungkin tidak
bisa memberikan langsung, tapi mereka selalu menyediakan ladang tempat saya
belajar, bahkan dalam kehidupan mereka. Saya tidak perlu meminta, tapi mereka
memberi. Bukankah itu esensi dari sebuah pertemanan baik, persahabatan, atau
entahlah dengan apa kalian menyebutnya ?
24 Juli
2013,kantor dengan pendingin ruangan yang membuatku kedinginan, tapi hatiku
selalu hangat dan mekar jika aku mengingat mereka, teman-teman terbaikku.