Selasa, 06 Agustus 2013

andai teman bisa dijual pun dibeli :))


'Aku pikir ketika berteman tidak lagi  menguntungkan, lebih baik aku putuskan saja hubungan pertemanan kami. Kamu tahu kan aku ini haus ilmu, aku butuh partner diskusi, dari ekonomi, politik bahkan mungkin cinta. Mereka ga akan pernah nyampe kalo aku ajak  bahas begituan. Dengan mereka aku ndak berkembang. Aku lebih senang berteman sama kamu,aku suka cara berpikirmu.' Kira-kira begitulah kata teman satu fakultas yang baru aku kenal belum lama ini.
Ya, kami memang sangat nyambung. Dari masalah remeh temeh sampai masalah kompleks yang bahkan umur kami belum pantas untuk membahasnya. Tapi kerongkonganku seperti tercekat, ketika aku mendengar ucapannya barusan. Aku baru saja menemukan teman yang aku anggap baik, teman yang aku anggap sama seperti 'sahabat' atau entahlah namanya. Aku merasa aku satu frekuensi dengannya, jadi kemanapun alur pembicaraan kami bergulir, kami hampir selalu selaras. Walopun meskipun aku lebih suka mendominasi karena faktor usia ku yang lebih tua.
Yang mengusik pikiranku saat ini adalah ketika suatu saat nanti aku tak bisa memenuhi apa yang bisa dia ambil dari sebuah pertemanan kami, apakah dia juga akan meninggalkan ku. Sama seperti teman-teman yang ia maksud? Mungkin nasib serupa juga akan menimpaku. Dan aku pun hanya bisa tersenyum kecut membayangkan hal itu.
******
Aku merapatkan punggungku pada sandaran kursi empuk depan layar komputer layar datar ini. Aku melirik smartphone ku, tanganku meraihnya dengan sigap. Bunyi cetak cetik mulai terdengar,sesaat aku melihat foto nya dengan selembar senyum manis pada barisan kontak pada aplikasi instant messaging ku. Pikiran ku menerawang, mengingat ucapannya tempo hari. Jika memang begitu lantas apakah hubungan pertemanan itu sama seperti kita berdagang? Ketika itu benar menguntungkan kita mengambilnya, ketika tidak ,tinggalkan.
Oke aku mulai terima, mengingat sifat manusia tidak ada yang mau rugi. Tapi? Apakah iya pertemanan hanya serendah, kamu bisa beri aku apa kalo aku mau jadi temanmu? Isshhh.. Nampaknya aku belum benar-benar bisa terima dengan hal ini.
Aku tak pernah menganggap diriku paling benar dalam segala hal termasuk hal ini. Tapi izinkanlah aku mereka ulang, bagaimana aku bisa membentuk pertemanan.
Pada awalnya,dalam berteman aku tak pernah berpikir aku akan dapat apa dari calon teman ku ini, ihhh aku ini mau temenan bukan mau jualan. Bahkan aku selalu setuju sama penggalan dalam lagu Sheila on 7, kalo arti teman lebih dari sekedar materi. Kalo kita tak temukan teman yang bisa  memenuhi kebutuhan kita, apa yang kita inginkan,pemenuhan atas ‘materi’ yang apabila kita tidak berteman kita harus mengeluarkan cost untuk mendapatkannya, bukankah mereka bisa menjadi best supporter dalam hidup kita. Yup, supporter untuk usaha pencapaian pemenuhan kebutuhan kita. Jangan pernah meremehkan, peran supporter. Dia bisa memberikan tambahan daya lebih dari beribu-ribu kilo watt bahkan ketika kita dalam titik terbawah, kita bisa melesat ke puncak kurva. Bukan begitu?
Buat saya teman baik atau sahabat atau apalah kalian menyebutkan,  selalu bisa menjadi rumah buat kita. Tempat untuk pulang, tempat bernaung, tempat berlindung sekalipun. Dimana kita selalu rindu, ketika kita telah berjalan jauh berkilo-kilometer. Tempat yang selalu bisa membuat kita merasa rindu ingin segera kembali, tempat yang bisa membuat kita terlelap dengan nyaman karena buaiannya, tempat yang selalu bisa menenangkan saat tangis kita membuncah.
Walaupun teman-teman terbaik saya belum bisa banyak menyembuhkan dahaga keilmuan saya, tapi setidaknya mereka selalu berada dalam garda terdepan untuk menjadi penyemangat saya, mereka selalu siap mengembangkan layar semangat saya. Kapanpun saya butuh. Mereka mungkin tidak bisa memberikan langsung, tapi mereka selalu menyediakan ladang tempat saya belajar, bahkan dalam kehidupan mereka. Saya tidak perlu meminta, tapi mereka memberi. Bukankah itu esensi dari sebuah pertemanan baik, persahabatan, atau entahlah dengan apa kalian menyebutnya ?


24 Juli 2013,kantor dengan pendingin ruangan yang membuatku kedinginan, tapi hatiku selalu hangat dan mekar jika aku mengingat mereka, teman-teman terbaikku. 

0 komentar:

Posting Komentar