REGRET AND BE THANKFUL
I can’t repair
the bad thing that I’ve done,I regret my foolishness in my past,but I’m happier
to be thankful of that.
Well, pada
dasarnya memang hidup itu seperti garis lurus,tak pernah kembali ke titik awal
garis itu dibuat. Karena hidup bukan lah bulatan bola yang tiada berujung dan
tiada berpangkal.
Ya, memang
begitulah hidup. Kita tidak bisa memperbaiki hal yang sudah berlalu. Sebagai
manusia biasa, saya sering melakukan kesalahan/kebodohan yang berujung
penyesalan. Dan saya tidak mau terkurung dalam kata-kata, “Andaisaja dulu
aku......”, “Kalau saja aku tahu......” terlalu lama. Karena toh saya juga
nggak akan bisa memperbaiki hal yang sudah lewat. Mengapa harus terkurung dalam
dimensi pengandaian yang tiada berbuah.
Tapi disini
saya bisa belajar, saya tidak terlalu takut melakukan kesalahan. Karena
dengan menjadi risk taker kita akan tahu lebih banyak daripada seorang yang
hanya mengambil “jalan aman” yang terkadang hanya mengetahui dunia yang
itu-itu saja.
Suatu hal yang
tertinggal sepanjang perjalanan menjadi seorang risk taker adalah saya lebih
mengetahui banyak hal dari yang teman seusia saya dapatkan kala itu. Karena
kesalahan adalah peringatan yang diawalkan. Saya tidak bisa membayangkan kalau
saja kebodohan yang saya lakukan saat ini saya lakukan dimasa yang akan datang.
Terlalu banyak yang dikorbankan jika hal bodoh ini saya lakaukan lakukan di
masa mendatang.
Saya
menyesal pernah melakukan tindakan yang sebegitu bodohnya waktu saya
berada di usia yang seharusnya masih belum pantas melakukan hal itu. Tapi saya
bersyukur atasnya,karena di usia sekarang saya bisa lebih aware dengan situasi
yang mungkin akan melenakan bagi orang yang belum pernah mengalami sebelumnya.
Well, being
regretful is required, but when you put yourself as the most culpable person
for a long time,keep moving and be thankful you’ve been awakened earlier.

0 komentar:
Posting Komentar