Jumat, 17 Agustus 2012

kita di angka 67

16 Agustus 2012.
Selepas acara kenegaraan dikampungku, aku masih asik menikmati pergerakan lini masa di dua jejaring sosial yang cukup akrab bagi penduduk negara ini.
Menjadi penyimak lini masa bagiku cukup mengasyikkan. Mengamati dinamika kehidupan manusia-manusia yang katanya modern. Yang kadang membuat ku tertawa, merasa prihatin,  sampai mengernyitkan dahi. Selalu ada saja, polah tingkah manusia-manusia yang terurai lewat susunan-susunan alfabetis.
Ya, ketika aku menulis kalimat ini aku telah melampaui menit ke empat di tanggal 17 Agustus 2012. Terus apa hubungannya dengan lini masa yang sedari tadi aku bicarakan? Ehhmmm... rangkaian kata menyambut hari ulangtahun negeri tercinta bertebaran dimana-mana. Mulai dari ucapan selamat, hingga cacian, keluhan tentang Indonesia.  Ahhh, hampir rata-rata seperti itu. Namun ada beberapa yang menggelitik ku untuk berceloteh.
Ya, mereka yang memulai dengan ngentul lalu mereka seolah menjatuhkannya.  Tak sedikit pula yang protes, dan bertanya-tanya yang mungkin kalo dibaca dengan gaya sok Innocent to the max.
Dirgahayu Indonesia ku, Apakah kita benar-benar sudah merdeka, dengan bla bla bla segala keburukan negeri ini, dengan menitikberatkan satu permasalahan kepada satu pihak.
Oh men, what kind of shit that you give to your reader. Errr..... Ini tuh negeri kita. Negeri kamu, negeriku juga. Indonesia kita.
Kalo kamu masih juga cerita Indonesia banyak penduduk miskin, banyak korup dimana-mana, kebodohan dimana-mana. Basi tau. Semua orang juga tau.
Ibarat Indonesia itu seperti anak kita yang tubuhnya digerogoti koreng dimana-mana, yang kamu lakukan kebanyakan dan mungkin juga aku lakukan cuma ngomong ke orang-orang,
“Ini hlo, anak gue. Sakit. Kudisan,koreng dimana-mana, ga tau kenapa ga sembuh-sembuh. Aduh kenapa sih Tuhan ngasih penyakit kek gini. Kenapa mesti anak gue sih.”
Dikata tuh penyakit bisa sembuh cuma dengan kita curhat ke orang-orang tentang penyakit anak kita. Enggak men, sama sekali enggak.
Gimana mau sembuh, kalo kita cuma ngeluh, banyakan ngomong, kalo plesetan kata dari iklan rokok itu talk more do less. Seharusnya kita itu mikir, gimana cara biar cepet sembuh. Cepet bergerak.
Indonesia itu udah cukup capek dengan protesan-protesan kita. Indonesia butuh solusi. Kalo kita cuma bisa ngeluh, protes tanpa ngasi solusi itu basi.
Coba kita pikir baik-baik sebelum kita ngeluh, mencaci, menyalahkan,
 apa sih yang sudah kita berikan buat negeri ini? What we have done for this country?
Jadi inget sama salah satu ayat yang ada di agama aku,
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang ada pada diri mereka. QS 13 : 11.
So, marilah kita mulai dari diri kita, sebagai orang Indonesia. Karena Indonesia itu milik kita. Ya, kamu dan aku.
Finally, ini entri bukan untuk menyinggung siapa-siapa. Meskipun aku juga tau kata-kataku ini mungkin akan kalian cap norak, kampungan, banyak omong, atau apalah. Aku sih ndak begitu peduli. Aku cuma pengen kita bisa menjadi pribadi yang tidak banyak menuntut, menyalahkan. Apalagi menuntut dan menyalahkan tanpa solusi dan tindakan tegas.
Dan semoga di usia 67 tahun ini kita bisa lebih dewasa memandang suatu fenomena. Jangan sampai mengedapankan ego masing-masing,ndak bakal ketemu, yakin deh. Karena masing-masing dari kita memang ditakdirkan berbeda.
Semoga entri ini bisa menjadi pembelajaran buat aku, dan semoga kamu juga.
Selamat ulang tahun, Indonesiaku, Indonesia mu. :)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

seandainya semua orang tau bahwa kita "PERNAH SATU" walau berbeda warna

Posting Komentar