16
Agustus 2012.
Selepas
acara kenegaraan dikampungku, aku masih asik menikmati pergerakan lini masa di
dua jejaring sosial yang cukup akrab bagi penduduk negara ini.
Menjadi
penyimak lini masa bagiku cukup
mengasyikkan. Mengamati dinamika kehidupan manusia-manusia yang katanya modern.
Yang kadang membuat ku tertawa, merasa prihatin, sampai mengernyitkan dahi. Selalu ada saja,
polah tingkah manusia-manusia yang terurai lewat susunan-susunan alfabetis.
Ya,
ketika aku menulis kalimat ini aku telah melampaui menit ke empat di tanggal 17
Agustus 2012. Terus apa hubungannya dengan lini masa yang sedari tadi aku
bicarakan? Ehhmmm... rangkaian kata menyambut hari ulangtahun negeri tercinta
bertebaran dimana-mana. Mulai dari ucapan selamat, hingga cacian, keluhan
tentang Indonesia. Ahhh, hampir
rata-rata seperti itu. Namun ada beberapa yang menggelitik ku untuk berceloteh.
Ya,
mereka yang memulai dengan ngentul lalu
mereka seolah menjatuhkannya. Tak sedikit
pula yang protes, dan bertanya-tanya yang mungkin kalo dibaca dengan gaya sok Innocent to the max.
Dirgahayu Indonesia ku, Apakah kita
benar-benar sudah merdeka, dengan bla bla bla segala keburukan
negeri ini, dengan menitikberatkan satu permasalahan kepada satu pihak.
Oh men,
what kind of shit that you give to your reader. Errr..... Ini tuh negeri kita. Negeri
kamu, negeriku juga. Indonesia kita.
Kalo
kamu masih juga cerita Indonesia banyak penduduk miskin, banyak korup
dimana-mana, kebodohan dimana-mana. Basi tau. Semua orang juga tau.
Ibarat Indonesia
itu seperti anak kita yang tubuhnya digerogoti koreng dimana-mana, yang kamu
lakukan kebanyakan dan mungkin juga aku lakukan cuma ngomong ke orang-orang,
“Ini hlo, anak gue. Sakit. Kudisan,koreng
dimana-mana, ga tau kenapa ga sembuh-sembuh. Aduh kenapa sih Tuhan ngasih
penyakit kek gini. Kenapa mesti anak gue sih.”
Dikata tuh
penyakit bisa sembuh cuma dengan kita curhat ke orang-orang tentang penyakit
anak kita. Enggak men, sama sekali enggak.
Gimana mau
sembuh, kalo kita cuma ngeluh, banyakan ngomong, kalo plesetan kata dari iklan
rokok itu talk more do less. Seharusnya
kita itu mikir, gimana cara biar cepet sembuh. Cepet bergerak.
Indonesia
itu udah cukup capek dengan protesan-protesan kita. Indonesia butuh solusi. Kalo
kita cuma bisa ngeluh, protes tanpa ngasi solusi itu basi.
Coba kita
pikir baik-baik sebelum kita ngeluh, mencaci, menyalahkan,
apa sih
yang sudah kita berikan buat negeri ini? What we have done for this country?
Jadi inget
sama salah satu ayat yang ada di agama aku,
Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang
ada pada diri mereka. QS 13 : 11.
So,
marilah kita mulai dari diri kita, sebagai orang Indonesia. Karena Indonesia
itu milik kita. Ya, kamu dan aku.
Finally,
ini entri bukan untuk menyinggung siapa-siapa. Meskipun aku juga tau
kata-kataku ini mungkin akan kalian cap norak, kampungan, banyak omong, atau
apalah. Aku sih ndak begitu peduli. Aku cuma pengen kita bisa menjadi pribadi
yang tidak banyak menuntut, menyalahkan. Apalagi menuntut dan menyalahkan tanpa
solusi dan tindakan tegas.
Dan semoga
di usia 67 tahun ini kita bisa lebih dewasa memandang suatu fenomena. Jangan sampai
mengedapankan ego masing-masing,ndak bakal ketemu, yakin deh. Karena masing-masing
dari kita memang ditakdirkan berbeda.
Semoga entri
ini bisa menjadi pembelajaran buat aku, dan semoga kamu juga.
Selamat
ulang tahun, Indonesiaku, Indonesia mu. :)
1 komentar:
seandainya semua orang tau bahwa kita "PERNAH SATU" walau berbeda warna
Posting Komentar