Senin, 28 November 2011

The Irony Lies on Me (Green Living)

Ehm, waktu nunggu rapat proker yang lumayan lama, saya mutusin buat mampir dulu ke salah satu toko buku yang di daerah Slamet Riyadi. Di sana saya muter-muter dari satu rak ke rak yang lain sampai berhentilah saya di salah satu judul buku, Easy Green Living karangan Valerina Daniel. Saya baca dikit-dikit, saya loncati satu halaman ke halaman yang lebih jauh lagi. Saya tutup dan saya kembalikan ke rak semula. Saya muter-muter lagi,tapi kok saya penasaran ya sama buku tadi. Saya balik lagi dan saya ambil lalu saya bawa kekasir. Dan jadilah saya yang awalnya nggak niat beli buku jadi belanja 2 buku, yang salah satunya buku yang bikin saya penasaran tadi sama satu buku fiksi.
Sesampai nya dirumah saya baca Easy Green Living yang tadi saya beli. Lama-lama buku ini bikin saya ketagihan. Gaya bahasa nya ringan dan sarat makna. Dan karena buku itulah saya sadar, saya merasa tersentak, sekaligus malu.
Saya yang emang jaman SMA suka banget sama topik bahasan Go Green,efek rumah kaca,global warming,pencemaran lingkungan dll , bikin saya mikir, saya suka koar-koar “let’s go green,bla..bla...bla...” tapi saya belum meng-go green kan jiwa dan pikiran saya. Kenapa ? yah percuma kan saya yang sok jadi penyayang lingkungan, tapi saya baru sedikit sekali melakukan hal kecil untuk menolong bumi ini. Too much word, less action. Buat apa? Saya rasa bumi nggak butuh kalo Cuma kata-kata,slogan-slogan dkk kalo tanpa action.
Ke ironis an saya yang pertama adalah,Saya tahu kalo sapi bisa menimbulkan gas metan yang cukup besar dan punya andil yang cukup banyak dalam pebentukan efek rumah kaca, akan tetapi ironis nya saya adalah bakso freak. Saat ini saya rutin mengkonsumsi bakso paling nggak seminggu 2 kali. Kebetulan bakso yang sering saya konsumsi adalah bakso sapi. Nah lo.
Lanjut untuk ke ironis an saya yang kedua, mulai saya SMP saya mencuci baju saya sendiri. And FYI, saya itu gila busa sabun. Saya selalu gemes kalo liat busa sabun. Walhasil saya hampir selalu menambahkan banyak detergen ke dalam ember cucian saya. Meskipun dirumah ada mesin cuci saya tetap memilih ngucek pake tangan,dengan alasan busanya bisa dibuat maen-maen. Selain itu detergen yang saya pakai pun saya nggak tau apakah detergen itu ramah lingkungan atao nggak,pokoknya asal pakai sajalah. Di lain sisi detergen yang tidak ramah lingkungan akan memberikan kontribusi aktif dalam pencemaran lingkungan,khususnya pencemaran air. Selain busa,saya juga suka maen air, mungkin ini terlalu childish untuk dilakukan seorang mahasiswa, tapi setidaknya mereka memberikan warna dalam kehidupan saya yang mulai fals dengan adanya abu-abu kehidupan ( You know lah, Campus is a simulation of life) . Nah saya suka liat percikan air yang jatuh dari ember ke lantai, that’s so wonderful for me. Intinya saya suka buang-buang air bersih secara tidak langsung. Padahal banyak daerah-daerah sana kekurangan air. 
Ke ironis an saya yang ketiga adalah, memang saya dulu jaman SMP – SMA kalo berangkat atau pulang sekolah jalan kaki,naek sepeda, atau nebeng bapak saya. Jaman SMA, saya rajin ngompor-ngomporin temen-temen saya buat bike to school. Temen-temen saya banyak yang minat, saya juga sering gabung sama temen-temen saya yang bike to school. Saya merasa diatas angin, saya merasa saya telah menyelamatkan bumi dengan tidak naik motor (Kalian pasti tahu kan bahaya CO2 sebagai penyumbang glass house effect). Helloooo,itu nggak bertahan lama, sejak saya masuk dunia perkuliahan, tiap hari saya PP naik motor. Dengan konsumsi bahan bakar berupa bensin ± 1 liter perhari. Setidaknya saya menghabiskan 20 liter bensin untuk urusan kuliah dalam satu bulan,itupun belum termasuk maen kesana kemari . Dan saya mulai males pake kendaraan umum. Jujur deh saya malu udah sesumbar kalo saya telah menyelamatkan bumi dengan tidak naik motor, tapi faktanya????
Ke ironis an saya yang ke empat, saya jarang memilahkan sampah sesuai dengan jenis nya. Hal ini dikarenakan keterbatasan lingkungan saya yang banyakan yang satu jenis tempat sampah, sama 2 jenis tempat sampah. Ya apa boleh buat,yang organik sama anorganik saya campur jadi satu.
Dan mungkin masih banyak ironi-ironi lain yang belum saya sadari,yang mungkin nggak dialami saya saja tapi kawan-kawan juga. Bumi butuh action men nggak cuma kata-kata, word without realisation means nothing. Nggak usah langsung pasang target ngilangin semua kerusakan yang udah kita ciptain, titik keberhasilan sama kegagalannya 1 : 3. Reduce, Sedikit-sedikit lah kurangi kebiasaan kita yang bisa memperparah keadaan bumi ini,dari diri kita sendiri. Sedikit mengubah syair dalam lagu dangdut, kita yang mulai kita pula yang harus mengakhiri. :))


1 komentar:

sitacitaku mengatakan...

yupp one of books that i have. im proud to have it *nyombong dikit ah haha

Posting Komentar