Minggu
pagi, ya minggu pagi. Jam enam lebih tiga puluh tujuh menit,dua puluh dua
Januari ,dua ribu dua belas. Sukoharjo tempat kelahiran saya tercinta masih
gelap,udaranya yang menusuk tulang membuat orang enggan untuk beraktivitas.
Termasuk saya, yang saat nulis ini duduk manis di depan layar komputer.
Hampir
di setiap suasana seperti ini pikiran saya pasti melayang ke awang-awang.
Memutar waktu sepuluh atau dua belas tahun lalu. Saya yang pada masa itu
menghabiskan masa kecil saya dengan manisnya. Dengan teman-teman
sekampung yang begitu banyak mengajari saya tentang sebuah arti kehidupan
dengan kepolosan dan keceriaan mereka. Saat dimana kita bermain, disitulah saya
belajar. Keceriaan mereka mengajari saya banyak hal. Permainan favorit kami
semasa itu adalah karetan atau
terkenal dengan sebutan lompat tali.
Karetan adalah
suatu permainan tentang melintasi rintangan karet-karet gelang yang terangkai
dalam suatu rangkaian. Permainan ini memang menggunakan karet gelang yang
dirangkai, karena berbahan dasar karet lah maka disebut dengan karetan. Terkadang ada pula yang
menyebut lompat tali itu sebagai uding. Lain karetan lain pula uding, uding
adalah sebuah permainan yang mengharuskan kita melompat-lompat seirama dengan
ayunan karet yang diputar. Mekanisme nya serupa saat kita bermain skipping. Bedanya terletak pada jumlah
orang yang mengayun memutar karet. Jikalau uding, dipegang dua orang disetiap ujungnya.
Persamaan antara uding dengan karetan
adalah alat yang digunakan sama-sama berasal dari untaian karet yang di
rangkai. Tapi jika orang mengatakan kepada saya tentang sebuah permainan lompat
tali, maka otak saya langsung menjurus pada permainan karetan ini.
Karetan dimainkan
setidaknya oleh 3 - 12 orang. Usia pemain rata-rata 6-13 tahun, masa masa
mereka duduk di bangku SD. Permainan ini dikelompok kan menjadi dua regu, regu
pertama terdiri dari dua orang selaku regu jaga. Tugas mereka adalah memegang
ujung tali untuk direnggang kan sehingga membentuk suatu rentangan karet dengan
ketinggian tertentu. Sedangakan regu kedua terdiri dari sisa-sisa pemain yang
tidak berjaga, tugas mereka adalah melompat i karet dengan ketinggian tertentu
tersebut. Permainan ini membutuhkan tempat yang lapang untuk bermain, karena
pelompat membutuhkan tempat ekstra untuk mengambil sebuah ancang-ancang untuk melompati tali tersebut.
Peraturan
permainan ini sangat lah sederhana. Mereka yang mendapatkan hak melompat, harus
melompati rentangan karet dengan ketinggian tertentu. Apabila mereka gagal
melompati tali maka mereka berkewajiban menggantikan posisi pemegang karet,
sedangkan pemegang karet yang tergantikan posisinya mendapatkan hak untuk
melompat.
Ketinggian
tertentu yang saya maksud dalam permainan ini adalah ketinggian yang sudah
ditentukan sejak permainan ini ada. Batas ketinggian yang pertama adalah
sebatas lutut pemegang tali, di ketinggian ini anggota tubuh pelompat tidak
boleh mengenai tali. Apabila anggota tubuh pelompat mengenai tali maka ia
dikatakan gagal. Batas ketinggian yang kedua adalah sebatas pinggang pemegang
tali. Batas ketinggian yang ketiga adalah sebatas dada pemegang tali, batas
ketinggian yang keempat adalah sebatas telinga pemegang tali. Untuk batas
kelima, yaitu sebatas ujung kepala pemegang. Sedangkan untuk batas ke enam dan
ketujuh yaitu sejengkal dari kepala pemain dan se acungan tangan pemegang tali
(sepanjang tangan yang dihadapkan kelangit) hal ini biasa disebut dengan sak merdeka karena posisi tangan seperti
ketika kita mengucapkan kata meredeka saat tanggal 17 Agustus.
Awal
permainan ini adalah dengan menentukan regu. Regu pemegang tali atau regu
pelompat. Untuk menentukan regu ini dilakukan dengan hompimpa atau gambreng.
Apabila yang tersisa tinggal 2 orang maka diadakan suit atau sut jleng untuk
menentukan pemegang tali yang mana yang akan mendapatkan hak terlebih dahulu
ketika ada pelompat yang gagal. Dua orang yang tersisa tersebut secara otomatis
akan menjadi pemegang tali. Setelah regu telah terbetuk, maka dimulailah dengan
ketinggian sebatas lutut dan seterusnya. Apabila pelompat terakhir telah
mencapai puncak batas atau sak merdeka
maka batas ketinggian dimulai dari awal lagi, berulang-ulang sampai para pemain
merasa jenuh atau lelah sehingga permainan berakhir.
Dari
Karetan saya belajar banyak hal.
Tentang kejujuran, analisis, sportivitas, dan tanggung jawab. Karena itulah
saya sangat menyukai permainan ini. Terima kasih teman-teman atas semua
pembelajaran yang kalian berikan melalui permainan ini.
Sukoharjo,22
Januari 2012


0 komentar:
Posting Komentar