Sengaja,ku
langkahkan kakiku menapaki jalan-jalan yang menyusuri sudut kota. Tempat yang
dulu sering aku datangi. Taman, taman yang selalu ramai saat akhir pekan
seperti ini. Taman kota yang selalu ada pertunjukkan music, dari accapela
sampai acoustic. Meski para pemainnya hanya dari warga kota, akan tetapi taman
itu tetap saja ramai.
###
Seulas
senyum mengembang di bibir manisya. Barisan gigi putih di pagari bibir warna
merah apel. Cantik , ya benar – benar cantik. Senyum yang selalu aku
nanti-nantikan. Meski mungkin senyum itu tak akan pernah menjadi milikku lagi.
Aku sudah termiliki. Dan tak mungkin pula aku meninggalkannya. Kali ini masih
ku lihat ia berdiri diatas panggung merah maroon itu, berdiri dengan gitar di
tangan kecil mungilnya. Kali ini aku tak bisa mengelak lagi, aku memang masih
selalu menanti – nanti petikan-petikan melodi indah dari gitar usang pemberian
Ayahnya. Pernah Aku mencintai nya melalui melodi-melodi indah yang dia petikkan
dari dawai gitar itu.
Teriakan
riuh penonton yang tak sabar menunggu nya,memainkan gitar tua itu. Aku berdiri
diantara mereka, menunggu dengan segenap kerinduan. Ia pun memulai
permainannya, wajah ceria seperti ia persembahkan untuk mereka. Dia tatap
setiap mata yang memanggil,mengelu-elukan namanya. Hingga akhirnya tatapan itu
benar – benar menghujam jantungku. Dia tersenyum dengan tatapan yang sangat aku
rindukan. Aku hanya terpaku. Bukan aku merasa telalu GR tapi semenjak Ia
melihatku, tak sedikitpun mata lentikmu berpaling dari ku.
“hai..?”
aku rasa suara yang sangat akrab di telingaku dulu , mulai mebuyarkan fantasi
ku.
“eh..eh
hai….”jawab ku tergagap.
Kami
terdiam. Aku hanya bisa menatap wajah ayunya penuh keheranan.
“Sudah
lama?”
“hem..begitulah.
Permainan yang mengagumkan.” Sanjung ku penuh keraguan.
“errr…
terimakasih. Bisa kita duduk disana utntuk sekedar ngobrol?” diarahkan jari
telunjukknya kearah jam 12,pada sebuah kursi taman tak jauh dari tempat kami
berdiri. Dan aku tak bisa menutupi kegembiraan ku.
Kami
berjalan beriringan. Dan akhirnya duduk bersebelahan. Suasana yang beku,tak ada
tutur kata yang terucap dari mulut kami. Hingga akhirnya..
“Permainan
mu kali ini jauh lebih bagus dari sebelum aku pergi dari kota ini.” Akhirnya
aku buka suara.
“Benarkah?”
ku lirik pipi putihnya bersemu merah layak nya pipi di sapukan pemerah pipi.
“Ya,
sungguh.”
Sepertinya
dia Nampak senang. Ia bercerita kepada siapa ia berlatih hingga ia bisa sehebat
ini. Perbincangan kami makin lama makin akrab, suasana yang tadi nya beku bak
es di dalam freezer kini mulai mencair. Sesekali kami tertawa,kadang mimik
wajahnya berubah serius. Kali ini kami benar-benar berbagi. Bercerita tentang
semua yang kita alami setelah aku pergi dari kota ini. Tepatnya setelah aku di
duakan, aku sakit hati. Hingga akhirnya aku memilih melanjutkan sekolah
menengah atasku di kota kelahiran Ayah, Jogjakarta. Mungkin aku memang
pecundang, lari dari masalah. Tapi aku tak bisa mendzalimi diri ku, aku tak
bisa melihat diriku semakin terpuruk jika aku masih tinggal di kota ini.
Melihat dan bertemu dengan nya setiap hari mungkin akan membuat luka hatiku
semakin perih. Karena aku yakin jika aku masih di kota ini, pasti aku akan
memasuki sekolah menengah atas yang sama dengan nya. Oleh sebab itulah, aku
memilih menjauh dari nya , karena tak bisa di pungkiri masih ada sedikit tempat
disudut hatiku untuknya, meski ia telah melukai hatiku tapi selalu ada kata
maaf untuk si nona gitar, begitu kerap ia ku sapa.
“Rencana
mau ngambil kuliah dimana Tom?”
“Belum
tau juga, mungkin di Jogja sama nemanin eyang. Tapi Ayah memintaku untuk kuliah
disini. Kamu ?”
“Kemungkinan
besar disini, Ibuku tak menginginkan aku kuliah jauh-jauh.”jawaban yang
sebenarnya sudah aku ketahui itupun meluncur dari bibir merahnya.
Kulihat
ia mulai memandangi jam di pergelangan tangan kirinya, raut mukanya berubah,
terlihat kecemasan menghiasi wajah ayu nya.
“Tom,
aku rasa, aku harus pergi sekarang. Seseorang telah menungguku di ujung gang.
Aku harus melanjutkan kegiatanku.” Ucapnya penuh keraguan.
Seseorang?
pacar? yang mana? Dulu dia bilang, dia tak akan pacaran lagi sebelum dia lulus
dari SMA, mungkin itu hanya alasannya saja untuk memutus tali kasih nya dengan
ku. Kami masih sama-sama kelas XII,tap kenyataannya? Aku mulai cemas. Hatiku
sedikit panas mendengarkan kata-katanya. Pikiranku tiba – tiba kacau, aku ingin
marah tapi apa alasanku. Aarrgghh..
“Tom,
halo….?” Dikibaskan lah tangan nya di depan mataku.
“Ehm..
iya. Silakan. Hati – hati ya?aku berusaha menyembunyikan kekesalanku.
“Sampai
jumpa lagi Tom. Senang deh kita bisa ngrumpi se asyik ini. Aku pengen deh
ngobrol kaya gini lagi,kangen-kangenan sama kamu. nextime kali yah? bye Tom.”
kangen?masihkah
ada rindu untukku? Lain kali? Tapi kapan, sayang kau tak menjelaskan kapan
pastinya. Dan aku juga senang bisa berbagi dengan mu sore ini.
###
Aku
kembali ke Jogja. Semua kembali seperti biasa. Tinggal bersama eyang, sekolah,
basket,mengikuti bimbel dan masih banyak lagi. Hubungan ku dengan CHiara masi
terasa sangat manis. Chiara yang lembut,pengertian,baik hati, dan aku
menyayanginya, tapi entah mengapa aku tetap tak bisa melupakan si nona gitarku.
Dua
bulan lagi aku akan menamatkan masa SMA ku,aku bangga, aku senang. Di saat
temanku masih harus melewati test seleksi masuk Perguruan Tinggi, aku sudah
bisa merasa lega, karena kau tak perlu pusing-pusing lagi memikirkan test
seleksi masuk Perguruan Tinggi,aku telah mendapatkan PTN di kota asalku dengan
prodi yang memang sangat aku impi-impikan sejak dulu.
###
Akhirnya
aku menjadi seorang mahasiswa juga. Dan aku kembali ke kota asalku. Dan aku
telah bersiap, jikalau hatiku akan terkoyak kembali.
“Tom…”teriak
seorang wanita di kejauhan, hati ku bergetar.
“hai..?”
Napasnya
tersengal – sengal,ia berlari tergopoh – gopoh ke arahku. Aku hanya tersenyum
memandangi tingkah mantan gadis ku, nona gitarku.
“Akhirnya
kamu kuliah di sini,pasti kamu ingin satu kampus ya sama ku. Makanya kamu
pindah kesini?hahaha…..iya kan?” goda si nona gitar,tapi ia tak sepenuhnya
salah. Mungkin ia benar. Mungkin memang itu alasan ku mendaftarkan namaku ke
PTN ini.
Dan
aku pun hanya tersenyum kecut menanggapi godaannya.
“Pasti
Komunikasi juga kan?” benar, tebakan nya lagi-lagi tak meleset.
“Mungkin
kita memang berjodoh ya?
“Mungkin.”
“Hahahaha……”kami
tertawa lepas.
Sedikit
berharap, dia masih memiliki rasa itu. Rasa yang dulu pernah aku dan nona gitar
miliki. Masih ada harapan ia kembali untukku, lagi. Dan berharap apa yang ia
katakan menjadi kenyataan. Kami berjodoh.
###
Iseng-
iseng kubuka notebook yang sedari tadi tergeletak di samping tempat tidur. Ku
nyalakan, dan kusambung dengan modem yang terletak tak jauh dari notebook. Aku
ketikkan salah satu alamat situs jejaring sosial yang aku miliki. Kulihat satu
permintaan teman,aku tercengang. Vara Si Nona Gitar menunggu konfirmasi untuk
menjadi teman. Kutelusuri akunnya, dan kutelusuri info-info yang ia lampirkan.
Dan kudapati, “In a relationship” yang berarti ia memang benar – benar sudah
tak lagi sendiri. Aku hanya bisa mendegus kesal. Dan aku hanya bisa berharap ,
itu status palsu.
0 komentar:
Posting Komentar