Minggu, 19 Desember 2010

nona gitar

Sengaja,ku langkahkan kakiku menapaki jalan-jalan yang menyusuri sudut kota. Tempat yang dulu sering aku datangi. Taman, taman yang selalu ramai saat akhir pekan seperti ini. Taman kota yang selalu ada pertunjukkan music, dari accapela sampai acoustic. Meski para pemainnya hanya dari warga kota, akan tetapi taman itu tetap saja ramai.
###
Seulas senyum mengembang di bibir manisya. Barisan gigi putih di pagari bibir warna merah apel. Cantik , ya benar – benar cantik. Senyum yang selalu aku nanti-nantikan. Meski mungkin senyum itu tak akan pernah menjadi milikku lagi. Aku sudah termiliki. Dan tak mungkin pula aku meninggalkannya. Kali ini masih ku lihat ia berdiri diatas panggung merah maroon itu, berdiri dengan gitar di tangan kecil mungilnya. Kali ini aku tak bisa mengelak lagi, aku memang masih selalu menanti – nanti petikan-petikan melodi indah dari gitar usang pemberian Ayahnya. Pernah Aku mencintai nya melalui melodi-melodi indah yang dia petikkan dari dawai gitar itu.
Teriakan riuh penonton yang tak sabar menunggu nya,memainkan gitar tua itu. Aku berdiri diantara mereka, menunggu dengan segenap kerinduan. Ia pun memulai permainannya, wajah ceria seperti ia persembahkan untuk mereka. Dia tatap setiap mata yang memanggil,mengelu-elukan namanya. Hingga akhirnya tatapan itu benar – benar menghujam jantungku. Dia tersenyum dengan tatapan yang sangat aku rindukan. Aku hanya terpaku. Bukan aku merasa telalu GR tapi semenjak Ia melihatku, tak sedikitpun mata lentikmu berpaling dari ku.
“hai..?” aku rasa suara yang sangat akrab di telingaku dulu , mulai mebuyarkan fantasi ku.
“eh..eh hai….”jawab ku tergagap.
Kami terdiam. Aku hanya bisa menatap wajah ayunya penuh keheranan.
“Sudah lama?”
“hem..begitulah. Permainan yang mengagumkan.” Sanjung ku penuh keraguan.
“errr… terimakasih. Bisa kita duduk disana utntuk sekedar ngobrol?” diarahkan jari telunjukknya kearah jam 12,pada sebuah kursi taman tak jauh dari tempat kami berdiri. Dan aku tak bisa menutupi kegembiraan ku.
Kami berjalan beriringan. Dan akhirnya duduk bersebelahan. Suasana yang beku,tak ada tutur kata yang terucap dari mulut kami. Hingga akhirnya..
“Permainan mu kali ini jauh lebih bagus dari sebelum aku pergi dari kota ini.” Akhirnya aku buka suara.
“Benarkah?” ku lirik pipi putihnya bersemu merah layak nya pipi di sapukan pemerah pipi.
“Ya, sungguh.”
Sepertinya dia Nampak senang. Ia bercerita kepada siapa ia berlatih hingga ia bisa sehebat ini. Perbincangan kami makin lama makin akrab, suasana yang tadi nya beku bak es di dalam freezer kini mulai mencair. Sesekali kami tertawa,kadang mimik wajahnya berubah serius. Kali ini kami benar-benar berbagi. Bercerita tentang semua yang kita alami setelah aku pergi dari kota ini. Tepatnya setelah aku di duakan, aku sakit hati. Hingga akhirnya aku memilih melanjutkan sekolah menengah atasku di kota kelahiran Ayah, Jogjakarta. Mungkin aku memang pecundang, lari dari masalah. Tapi aku tak bisa mendzalimi diri ku, aku tak bisa melihat diriku semakin terpuruk jika aku masih tinggal di kota ini. Melihat dan bertemu dengan nya setiap hari mungkin akan membuat luka hatiku semakin perih. Karena aku yakin jika aku masih di kota ini, pasti aku akan memasuki sekolah menengah atas yang sama dengan nya. Oleh sebab itulah, aku memilih menjauh dari nya , karena tak bisa di pungkiri masih ada sedikit tempat disudut hatiku untuknya, meski ia telah melukai hatiku tapi selalu ada kata maaf untuk si nona gitar, begitu kerap ia ku sapa.
“Rencana mau ngambil kuliah dimana Tom?”
“Belum tau juga, mungkin di Jogja sama nemanin eyang. Tapi Ayah memintaku untuk kuliah disini. Kamu ?”
“Kemungkinan besar disini, Ibuku tak menginginkan aku kuliah jauh-jauh.”jawaban yang sebenarnya sudah aku ketahui itupun meluncur dari bibir merahnya.
Kulihat ia mulai memandangi jam di pergelangan tangan kirinya, raut mukanya berubah, terlihat kecemasan menghiasi wajah ayu nya.
“Tom, aku rasa, aku harus pergi sekarang. Seseorang telah menungguku di ujung gang. Aku harus melanjutkan kegiatanku.” Ucapnya penuh keraguan.
Seseorang? pacar? yang mana? Dulu dia bilang, dia tak akan pacaran lagi sebelum dia lulus dari SMA, mungkin itu hanya alasannya saja untuk memutus tali kasih nya dengan ku. Kami masih sama-sama kelas XII,tap kenyataannya? Aku mulai cemas. Hatiku sedikit panas mendengarkan kata-katanya. Pikiranku tiba – tiba kacau, aku ingin marah tapi apa alasanku. Aarrgghh..
“Tom, halo….?” Dikibaskan lah tangan nya di depan mataku.
“Ehm.. iya. Silakan. Hati – hati ya?aku berusaha menyembunyikan kekesalanku.
“Sampai jumpa lagi Tom. Senang deh kita bisa ngrumpi se asyik ini. Aku pengen deh ngobrol kaya gini lagi,kangen-kangenan sama kamu. nextime kali yah? bye Tom.”
kangen?masihkah ada rindu untukku? Lain kali? Tapi kapan, sayang kau tak menjelaskan kapan pastinya. Dan aku juga senang bisa berbagi dengan mu sore ini.
###
Aku kembali ke Jogja. Semua kembali seperti biasa. Tinggal bersama eyang, sekolah, basket,mengikuti bimbel dan masih banyak lagi. Hubungan ku dengan CHiara masi terasa sangat manis. Chiara yang lembut,pengertian,baik hati, dan aku menyayanginya, tapi entah mengapa aku tetap tak bisa melupakan si nona gitarku.
Dua bulan lagi aku akan menamatkan masa SMA ku,aku bangga, aku senang. Di saat temanku masih harus melewati test seleksi masuk Perguruan Tinggi, aku sudah bisa merasa lega, karena kau tak perlu pusing-pusing lagi memikirkan test seleksi masuk Perguruan Tinggi,aku telah mendapatkan PTN di kota asalku dengan prodi yang memang sangat aku impi-impikan sejak dulu.
###
Akhirnya aku menjadi seorang mahasiswa juga. Dan aku kembali ke kota asalku. Dan aku telah bersiap, jikalau hatiku akan terkoyak kembali.
“Tom…”teriak seorang wanita di kejauhan, hati ku bergetar.
“hai..?”
Napasnya tersengal – sengal,ia berlari tergopoh – gopoh ke arahku. Aku hanya tersenyum memandangi tingkah mantan gadis ku, nona gitarku.
“Akhirnya kamu kuliah di sini,pasti kamu ingin satu kampus ya sama ku. Makanya kamu pindah kesini?hahaha…..iya kan?” goda si nona gitar,tapi ia tak sepenuhnya salah. Mungkin ia benar. Mungkin memang itu alasan ku mendaftarkan namaku ke PTN ini.
Dan aku pun hanya tersenyum kecut menanggapi godaannya.
“Pasti Komunikasi juga kan?” benar, tebakan nya lagi-lagi tak meleset.
“Mungkin kita memang berjodoh ya?
“Mungkin.”
“Hahahaha……”kami tertawa lepas.
Sedikit berharap, dia masih memiliki rasa itu. Rasa yang dulu pernah aku dan nona gitar miliki. Masih ada harapan ia kembali untukku, lagi. Dan berharap apa yang ia katakan menjadi kenyataan. Kami berjodoh.
###
Iseng- iseng kubuka notebook yang sedari tadi tergeletak di samping tempat tidur. Ku nyalakan, dan kusambung dengan modem yang terletak tak jauh dari notebook. Aku ketikkan salah satu alamat situs jejaring sosial yang aku miliki. Kulihat satu permintaan teman,aku tercengang. Vara Si Nona Gitar menunggu konfirmasi untuk menjadi teman. Kutelusuri akunnya, dan kutelusuri info-info yang ia lampirkan. Dan kudapati, “In a relationship” yang berarti ia memang benar – benar sudah tak lagi sendiri. Aku hanya bisa mendegus kesal. Dan aku hanya bisa berharap , itu status palsu.

0 komentar:

Posting Komentar